Mataram (Inside Lombok) – Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram bersiap menerapkan Surat Edaran (SE) Gubernur NTB terkait larangan Aparatur Sipil Negara (ASN) menggunakan gas elpiji 3 kilogram. Kebijakan ini akan segera ditindaklanjuti agar ASN di lingkungan Pemkot Mataram beralih menggunakan gas non-subsidi.
Kepala Bidang Bahan Pokok dan Penting (Bapokting) Dinas Perdagangan Kota Mataram, Sri Wahyunida, mengatakan pihaknya telah menggelar rapat koordinasi bersama sejumlah pemangku kepentingan. Rapat tersebut melibatkan Hiswana Migas, Pertamina, serta Pemerintah Provinsi NTB.
“Terkait gas 3 kilo ini, kami meneruskan SE yang dikeluarkan Pak Gubernur tentang larangan ASN menggunakan tabung subsidi,” ujarnya, Rabu (7/1/2026).
Menurutnya, kebijakan ini merupakan bentuk kepatuhan terhadap aturan sekaligus upaya memastikan distribusi gas elpiji bersubsidi tepat sasaran. Disdag Kota Mataram saat ini tengah menyusun skema penerapan larangan tersebut. “ASN kita minta kesadarannya untuk tidak menggunakan itu dulu,” katanya.
Terkait pengawasan, Disdag akan melakukan pengawasan secara kolaboratif dengan menunggu pembentukan tim terpadu dari tingkat provinsi. Koordinasi juga telah dilakukan dengan Polresta Mataram. “Untuk pengawasan kita koordinasi dengan Polres bagaimana mekanisme pengawasan. Yang penting ada sosialisasi dulu dengan Pertamina, Hiswana,” jelasnya.
Sri Wahyunida menambahkan, kebijakan ini masih dalam tahap wacana namun skema penerapannya sudah mulai disusun. Salah satunya dengan menggandeng Pertamina melalui program penukaran dua tabung gas melon kosong dengan satu tabung Bright Gas 5,5 kilogram.
“Pertamina punya program itu, kita sambut baik dan SE kita terapkan juga. Pemprov sudah launching. Kita koordinasikan di mana nanti penukarannya biar saat pelaksanaannya masyarakat bingung penukarannya,” katanya.
Ia menegaskan, penerapan larangan ini bukan karena kelangkaan gas elpiji 3 kilogram, melainkan untuk memastikan subsidi tepat sasaran. Disdag juga berencana mengajukan permohonan penambahan kuota gas elpiji kepada Pertamina pada pertengahan Januari.
“Jangan kita lengah terhadap beberapa momen. Dan ini pelajaran di kita untuk mengantisipasi momen-momen itu. Makanya di bulan Ramadhan untuk barang penting sudah kita antisipasi,” tutupnya.

