31.5 C
Mataram
Jumat, 6 Februari 2026
BerandaMataramPengangguran di NTB Naik, BPS Sebut Investasi Masih Didominasi Sektor Padat Modal

Pengangguran di NTB Naik, BPS Sebut Investasi Masih Didominasi Sektor Padat Modal

Mataram (Inside Lombok) – Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di NTB meningkat dari 2,73 persen pada 2024 menjadi 3,06 persen pada 2025 meskipun investasi besar masuk ke daerah tersebut. Kenaikan sekitar 0,33 persen itu disampaikan dalam rilis di Mataram, Selasa (2/12), dan dinilai dipengaruhi oleh investasi yang lebih banyak bersifat padat modal sehingga tidak sebanding dengan pertumbuhan angkatan kerja.

Kepala BPS NTB, Wahyudin, menjelaskan bahwa investasi yang masuk terutama mengalir ke sektor pertambangan di Kabupaten Sumbawa Barat melalui kegiatan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) dan PT Amman Mineral Industri (AMIN) untuk pembangunan smelter.

“Investasi yang masuk, terutama di pertambangan dan smelter, itu kebanyakan berupa belanja barang modal, bukan padat karya. Investasi triliunan tersebut lebih dari 50 persen adalah padat modal, sehingga pengaruhnya terhadap penyerapan tenaga kerja sangat kecil,” ungkapnya.

Ia menyebut kenaikan TPT dipicu ketidakseimbangan antara pertumbuhan angkatan kerja dan lapangan kerja yang tersedia. “Jika tambahan angkatan kerja mencapai tujuh atau delapan persen, sementara tambahan orang yang bekerja hanya lima persen, maka selisih inilah yang menjadi tambahan jumlah orang menganggur,” paparnya.

Wahyudin menambahkan bahwa sektor pariwisata seperti Mandalika juga menyerap tenaga kerja, namun sebagian besar merupakan pekerja yang sudah berada di sektor tersebut untuk proyek pembangunan hotel dan akomodasi. Kondisi ini dinilai belum cukup menekan laju pengangguran yang terus bertambah.

Untuk memperluas penyerapan tenaga kerja, BPS NTB mendorong pemerintah daerah mengarahkan investasi pada sektor hilirisasi, baik hasil tambang maupun pertanian. “Misalnya, hasil dari smelter yang menghasilkan tembaga, emas, dan perak. Itu bisa dikembangkan industri kreatif seperti pengolahan emas menjadi perhiasan,” tuturnya.

Ia juga menilai hilirisasi pertanian memiliki potensi besar karena produksi jagung NTB diproyeksikan mencapai 1,7 juta ton jagung pipilan kering pada akhir tahun ini. “Sayangnya, di NTB kita belum punya industri atau pabrik pakan ternak. Padahal kita punya potensi cukup besar, baik dari hasil padi (dedak) maupun jagung pipilan kering yang produksinya masif,” pungkasnya.

- Advertisement -

Berita Populer