Mataram (Inside Lombok) – Banjir yang terjadi pada awal Juni lalu mengakibatkan 110 hektar lahan pertanian di Kota Mataram gagal panen. Ratusan lahan rata-rata belum masuk ke dalam asuransi pertanian.
Plt Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, Irwan Harimansyah, mengatakan dari luas lahan yang gagal panen ini, Kota Mataram kehilangan sekitar 600 an ton gabah. “Ini yang belum dijemur. Karena rata-rata dalam satu hektar itu 5 – 7 ton,” katanya Kamis (21/8) siang. Ia mengatakan, para petani yang terdampak banjir ini sudah berkoordinasi dengan Pemkot Mataram. Hanya saja, Pemkot tidak bisa memberikan bantuan kepada para petani yang terdampak. “Ada sih yang datang. Tapi apa yang bisa kita bantu ya,” katanya.
Dengan melihat kondisi pertanian yang terdampak bencana ini, para petani diharapkan bisa tergabung dalam Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Jika mengikuti program ini maka lahan pertanian yang gagal panen bisa mendapatkan asuransi dan mengurangi kerugian. “Itu pentingnya asuransi, dan sudah bisa terbayar,” katanya.
Jumlah kelompok tani di Kota Mataram sekitar 76 kelompok. Masing-masing kelompok tani terdiri dari sekitar 20 petani. Para petani yang ada di Kota Mataram tidak dipungkiri ada yang mengikuti asuransi. Namun terkait dengan jumlahnya belum diketahui secara pasti. Di samping itu, Pekot tidak mengetahui secara pasti alasan para petani masih enggan untuk mengikuti AUTP tersebut. “Jadi yang gagal panen ini rata-rata tidak mengikuti asuransi,” katanya. Menurut Irwan, petani di Kota Mataram ini sebagian diantaranya merupakan petani penggarap. Artinya, para petani hanya menggarap lahan bukan sebagai pemilik lahan tersebut.

