Mataram (Inside Lombok) – Sebanyak 442 ribu anak dan remaja atau sekitar 20 persen di Provinsi NTB dilaporkan mengalami fatherless atau tumbuh tanpa figur ayah. Data tersebut disampaikan oleh Perwakilan BKKBN Provinsi NTB dalam pernyataan kepada media di Mataram, Rabu (3/12), yang menyebut pola asuh di daerah ini masih banyak diserahkan kepada ibu maupun keluarga lainnya.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi NTB, Lalu Makripuddin, menyatakan kondisi tersebut salah satunya disebabkan tingginya jumlah warga NTB yang bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI). Ia menambahkan bahwa anak sering kali ditinggalkan tanpa perhatian ayah karena peran pengasuhan digantikan oleh ibu, kakek, atau nenek. “Pengasuhan lebih banyak diserahkan kepada ibu-ibu,” katanya.
Menurutnya, ketidakhadiran figur ayah dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak, termasuk perhatian dalam proses pembelajaran. “Sering kali tidak memberikan perhatian kepada anak-anak yang ditinggalkannya. Ini akan menyebabkan fatherless dan faktor-faktor juga terjadi,” katanya.
Ia menyebut perkembangan anak yang tidak mendapat perhatian ayah tidak akan sama dengan remaja lain yang mendapatkan pengasuhan lengkap. “Itu karena tidak ada perhatian ayah. Ketika proses pembelajaran di sekolah tidak terlalu memperhatikan,” katanya.
Ia juga menyampaikan adanya dampak lain dalam pola asuh, termasuk pengaruh pada orientasi seksual anak. Untuk menekan angka tersebut, BKKBN NTB saat ini menggencarkan program Gerakan Ayah Tauladan Indonesia (GATI). Program ini ditujukan meningkatkan kedekatan ayah dengan anak melalui kegiatan penguatan peran ayah dalam pengasuhan.
“Kemungkinan besar dampak ini akan muncul apabila fatherless ini terjadi. Ini untuk mencegah fatherless tadi,” katanya.
Makripuddin menyebut program GATI telah berjalan selama setahun dan akan dievaluasi melalui survei untuk melihat dampaknya. “Secara umum pasti akan berdampak. Karena anak akan lebih percaya diri, kemudian bersama ayahnya bisa lebih merasa terbuka dan masalah bisa dikemukakan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa tingginya angka fatherless menjadi perhatian nasional dan telah masuk dalam program quick win kementerian terkait. “Ini rata-rata hampir di semua daerah itu terjadi yang namanya fatherless,” katanya.

