Mataram (Inside Lombok) – Rumah Sakit (RS) Mutiara Sukma mencatat telah membebaskan 29 orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dari praktik pasung sepanjang tahun 2025. Upaya bebas pasung tersebut dilakukan sebagai bagian dari pemenuhan hak pasien dan penanganan kesehatan jiwa secara lebih manusiawi. Hal ini disampaikan Direktur RS Mutiara Sukma, dr. Wiwin Nurhasida, Rabu (28/1/2026).
Wiwin mengatakan, bentuk pasung yang saat ini diterapkan masyarakat telah mengalami pergeseran. Jika sebelumnya menggunakan kayu atau rantai, kini sebagian besar ODGJ dipasung dengan cara dikurung di dalam kamar. “Data di kami itu yang sudah kami bebaskan. Kalau kita pasung maka hak pasien terpasung juga. Kita sepakat untuk membebaskan,” katanya.
Pada tahun 2025, metode pasung kamar menjadi yang paling banyak ditemukan, meski masih ada ODGJ yang dipasung menggunakan rantai dan balok. “Jadi terbanyak di kamar untuk lepas pasung tahun 2025. Tapi ada juga yang masih dipasung dengan rantai dan juga balok,” ujar Wiwin. RS Mutiara Sukma juga mencatat adanya kasus pasung ulang setelah pasien dibebaskan.
Berdasarkan data rumah sakit, jumlah ODGJ yang pernah dipasung sebanyak 29 orang, masih dalam kondisi terpasung 23 orang, dan lima orang mengalami pasung kembali. “Sisa pasung saat ini jadinya 28 orang,” katanya.
Wiwin menekankan, setelah dibebaskan dari pasung, diperlukan komitmen keluarga untuk memastikan pasien rutin mengkonsumsi obat dan segera dirujuk ke rumah sakit jika kembali menunjukkan perilaku yang mengganggu.
Terkait upaya bebas pasung, pemerintah pusat disebut tengah menyusun regulasi khusus dan akan memberikan apresiasi kepada daerah yang berhasil bebas pasung. “Kita di daerah tentu saja salah satu toolsnya berkolaborasi untuk NTB bebas pasung,” katanya. Selain pembebasan pasung, RS Mutiara Sukma juga melakukan pendampingan lanjutan melalui rehabilitasi psikososial, termasuk terapi kerja bagi pasien yang telah sembuh.
Salah satu mantan pasien, Herman, disebut mendapatkan terapi kerja selama menjalani perawatan, seperti membuat kerajinan tangan, telur asin, dan berkebun. “Mantan pasien RS Mutiara Sukma pak Herman namanya bercerita mendapatkan terapi kerja selama dirawat seperti membuat kerajinan tangan, membuat telur asin, berkebun dan aktivitas lainnya,” kata Wiwin.
Hasil terapi tersebut kini menjadi sumber penghidupan bagi Herman, yang sejak 2018 berjualan sambil menjalani pengobatan rawat jalan dan pada 2022 menerima bantuan gerobak dari RS Mutiara Sukma.

