24.5 C
Mataram
Jumat, 27 Februari 2026
BerandaMataramSekretaris Komisi IV DPRD Kota Mataram Sesalkan Temuan Menu MBG yang Tak...

Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Mataram Sesalkan Temuan Menu MBG yang Tak Layak Konsumsi Selama Ramadhan

Mataram (Inside Lombok) – Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Mataram, Nyayu Ernawati, menyesalkan temuan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak layak konsumsi di sejumlah sekolah selama Ramadhan 2026. Program prioritas Presiden RI Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka itu dinilai terkesan dipaksakan, terutama karena distribusi makanan dilakukan pagi hari namun dikonsumsi saat berbuka puasa.

Nyayu mengaku menerima banyak laporan dari sekolah terkait menu MBG yang rusak dan basi. Di SMPN 2 Mataram, kurma yang dibagikan ditemukan dalam kondisi berulat. Di SDN 34 Ampenan, apel yang diterima siswa dilaporkan sudah busuk, sementara di SDN 2 Cakranegara, puding yang dibagikan disebut sudah berbusa.

“Saya sangat menyesalkan ini terjadi berulang kali. Tolong, perlakukan anak-anak ini seperti anak kandung kita sendiri. Jangan jadikan mereka objek proyek!” tegas Nyayu, kemarin (26/2/2026).

Menurutnya, pelaksanaan MBG saat ini memprihatinkan dan tidak sesuai tujuan awal program sebagai sarana perbaikan gizi. “Ini benar-benar miris. Tujuan MBG itu memberikan makanan bergizi, bukan makanan basi, ada ulat,” ungkapnya.

Ia menilai pendistribusian makanan pada pagi hari menjadi penyebab menu sampai ke tangan siswa dalam kondisi tidak layak konsumsi saat berbuka. “Ya kalau bulan puasa ini di stop. Sehingga anak-anak bisa fokus melaksanakan ibadah puasa. Apalagi di tingkat SD sedang belajar berpuasa,” katanya.

Nyayu juga menyarankan agar anggaran program tersebut dialokasikan secara lebih tepat sasaran. Jika pengelola SPPG tidak mampu menjalankan aturan sesuai standar, ia mendesak operasionalnya ditutup.

“Lebih baik anggarannya dialihkan untuk pendidikan gratis sehingga seluruh anak Indonesia ini bisa sekolah. Anak-anak yang tidak mampu tidak lagi berpikir tentang biaya. Mereka bisa setinggi-tingginya. Daripada begini,” usulnya.

Ia menambahkan, menu yang dibagikan seharusnya dapat dikonsumsi saat berbuka puasa dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa selama Ramadhan. “Ini malah dijadikan proyek, jelas ini bulan puasa, berikan anak-anak kita makanan yang bermuatan lokal yang memang dibutuhkan anak-anak pada jam makannya. Karena ini bulan puasa yang pasti di makannya pada saat buka puasa,” katanya.

- Advertisement -

Berita Populer