Mataram (Inside Lombok) – Aparat kepolisian memaksimalkan pengamanan yang mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat selama Ramadan ini. Dari kegiatan rutin yang dilakukan, selama bulan puasa ini Polres Mataram menjaring lebih dari 100 anak-anak yang terlibat balap liar hingga perang sarung.
Menanggapi fenomena itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, Yusuf mengatakan pihaknya akan memberikan sanksi tegas bagi peserta didik yang terjaring oleh pihak kepolisian. Namun, sanksi tersebut akan diberikan dengan terlebih dahulu peringatan pertama hingga ketiga. Jika tidak diindahkan maka akan diberikan sanksi berupa skors kepada siswa.
“Kalau ada yang ditangkap itu nanti ada peringatan 1, 2, 3 baru kita kembalikan pendidikannya ke orang tua,” katanya, Rabu (12/3) pagi. Ia mengatakan, sanksi tersebut untuk memberikan efek jera kepada peserta didik yang terlibat.
Dinas Pendidikan Kota Mataram disebutnya sudah mengeluarkan imbauan terkait aktivitas yang dilakukan selama bulan Ramadan. Efek jera bagi siswa yang melanggar aturan nantinya dalam bentuk pemberian skors ke peserta didik. Selama skors orang tua diharapkan memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. “Kalau berapa lamanya itu sudah ditentukan oleh satuan pendidikan masing-masing,” katanya.
Yusuf menekankan, pemberian skors ini nantinya akan langsung diserahkan kepada pihak sekolah. Artinya, sekolah diberikan kewenangan untuk memberikan berapa lama skors kepada peserta didik yang terlibat aksi balap liar hingga perang sarung.
Terkait dengan jumlah peserta didik yang terlibat kata Yusuf belum ada laporan. Karena data anak-anak yang terjaring oleh aparat kepolisian tersebut bukan hanya yang duduk tingkat SMP melainkan lebih banyak tingkat SMA.
“Tidak ada laporannya ke kami datanya itu. Ini kita dapat informasinya melalui media massa. Sebagian besar itu SMA dan kalau SMP tidak banyak. Tapi untuk data lengkapnya kami belum dapat laporannya,” ungka Yusuf.
Diberitakan sebelumnya Kapolres Mataram Kombes Pol. Dr. Ariefaldi Warganegara mengatakan selama bulan puasa ini jumlah personil yang diterjunkan yaitu sebanyak 270 orang. Jumlah anak-anak yang berhasil diamankan lebih dari 100 orang rata-rata SMP-SMA.
“Yang kita lakukan pengamanan terhadap anak-anak kita. Terakhir ada yang perang sarung, balap liar, dan banyak kendaraan yang sudah kita lakukan pengamanan,” katanya Senin (10/3) pagi.
Ia mengatakan, pihak kepolisian juga memanggil orang tua, tokoh agama hingga pihak sekolah. Pemanggilan ini agar sama-sama ikut terlibat aktif mengawasi aktivitas anak-anak selama bulan Ramadan agar tidak bermain yang bisa mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.
“Membuat pernyataan bersama untuk sama-sama mengawasi dan membina anak-anaknya. Mereka juga kita kenakan wajib lapor. Setiap Senin dan Kamis untuk melihat pembinaan ini apakah berjalan atau tidak,” ujarnya.
Jumlah anak-anak yang terjaring ini lebih dari 100 orang. Pembinaan langsung dilakukan di masing-masing sektor. “Kalau untuk anak-anaknya itu lebih 100. Beberapa polsek sudah lakukan pembinaan,” katanya.
Diterangkannya, pengamanan yang dilakukan mayoritas anak-anak dari Kota Mataram yang masih duduk dibangku SMP-SMA. Balap liar hingga perang sarung yang dilakukan mulai diatas jam 12 malam hingga setelah subuh. “Bahkan setelah subuh pun anak-anak ada yang masih bermain petasan. Terutama waktu dia sudah mulai libur sekolah,” katanya. (azm)

