25.5 C
Mataram
Kamis, 5 Februari 2026
BerandaMataramVolume Sampah di Bawah Seribu Ton per Hari, NTB Tak Masuk Program...

Volume Sampah di Bawah Seribu Ton per Hari, NTB Tak Masuk Program 34 WTE Nasional

Mataram (Inside Lombok) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak masuk dalam prioritas pembangunan 34 proyek waste to energy (WTE) nasional pada pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto karena volume sampah harian di daerah ini belum mencapai 1.000 ton per hari. Program tersebut diprioritaskan bagi daerah dengan produksi sampah tinggi sebagai langkah penanganan darurat sampah.

Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, mengatakan kriteria utama masuk program 34 WTE adalah produksi sampah minimal 1.000 ton per hari di tempat pemrosesan akhir (TPA) atau tempat pengolahan sampah regional. Hingga saat ini, seluruh TPA dan TPR di kabupaten dan kota di NTB belum mencapai angka tersebut.

“Yang masuk dalam program 34 itu yang mencapai produksi sampahnya 1.000 ton. Di TPA dan TPR kita belum ada yang mencapai 1.000 ton per hari,” katanya, Rabu (4/2/2026).

Ia menjelaskan, rendahnya angka tersebut juga dipengaruhi oleh sistem pendataan dan pengelolaan sampah yang belum optimal. Sampah masih tercecer dan belum terintegrasi karena belum adanya sistem transfer atau pengumpulan terpusat. “Belum ada transfering sehingga sampah ini masih tercerai-berai sehingga belum sampai 1.000 ton,” ujarnya.

Meski demikian, Pemprov NTB masih terus berkomunikasi dengan pemerintah pusat, khususnya Kementerian Lingkungan Hidup, untuk mendapatkan dukungan program penanganan sampah. Pemprov berharap NTB tetap dapat difasilitasi masuk dalam program WTE meskipun volume sampah belum mencapai batas prioritas nasional.

“Kita berharap bisa dapat endorse meski di bawah 1.000 tapi bisa masuk ke WTE,” kata Iqbal.

Terkait minat investor, Iqbal menyebut sudah ada beberapa pihak yang menyatakan ketertarikan terhadap proyek WTE di NTB. Namun hingga kini belum ada yang melanjutkan ke tahap studi kelayakan dan masih sebatas menawarkan teknologi.

“Sudah ada yang masuk tapi belum ada yang melakukan feasibility stud. Mereka hanya baru menawarkan teknologinya,” katanya.

Dalam rencana pelaksanaan proyek WTE, Iqbal menegaskan tidak akan memberlakukan tipping fee dan menginginkan teknologi yang mampu mengolah seluruh jenis sampah tanpa proses pemilahan awal. Beberapa investor yang menyatakan minat berasal dari Belanda, Turki, dan Australia, namun hanya sebagian yang memenuhi kriteria teknologi tersebut.

“Yang bisa mengolah semua jenis sampah itu ada beberapa saja,” pungkasnya.

- Advertisement -

Berita Populer