31.5 C
Mataram
Jumat, 6 Februari 2026
BerandaMataram"Without Blue" di Langit Lombok: Jejak Whyper dan Upaya Membuka Ruang bagi...

“Without Blue” di Langit Lombok: Jejak Whyper dan Upaya Membuka Ruang bagi Seni Digital

Mataram (Inside Lombok) – Pameran seni digital bukan hal lazim di Lombok. Di tengah dominasi seni rupa tradisional, ruang-ruang pameran jarang memberi tempat bagi karya yang lahir dari layar komputer ataupun gawai. Karena itu, kemunculan pameran Without Blue (19-27 Oktober 2025) di Segara Space, Kota Mataram, terasa seperti udara segar.

Pameran tunggal ini menampilkan 16 karya digital seniman Whyper, yang sebelumnya sempat berpameran di Jepang. “Kesempatannya datang tepat ketika karya-karya saya sudah siap,” kata Whyper kepada Inside Lombok (19/10). Tawaran dari Raw Draw Collective dan Segara Space membuatnya tak ragu berpameran di tanah kelahirannya.

Dalam Without Blue, Whyper berbicara tentang dunia yang, menurutnya, masih jauh dari ideal. Setiap kegelisahan dituangkannya ke dalam bentuk visual yang berlapis makna. Meski bertajuk Without Blue, tak ada satu pun warna biru dalam karya-karyanya. “Saya ingin menyampaikan kesedihan tanpa menggunakan warna biru,” ujarnya.

Perempuan menjadi figur sentral dalam beberapa karyanya. Whyper menyoroti stereotipe yang mengekang perempuan, sekaligus memuji keberanian mereka mengekspresikan emosi. “Perempuan lebih jujur dalam mengungkapkan perasaan,” katanya.

Sentuhan feminisme itu berpadu dengan elemen surealis—dari pesawat ulang alik hingga UFO—yang sering muncul dalam komposisinya. Salah satu seri yang menarik perhatian adalah The Beatles. Whyper mengangkat istilah “feeling blue” yang kerap muncul dalam lagu-lagu band asal Inggris itu. Dalam salah satu karya, Paul McCartney digambarkan mengenakan topi mirip UFO, simbol kecerdasan dan imajinasi tanpa batas. “Paul yang paling jenius di antara mereka. Jadi saya beri dia sesuatu yang menggambarkan kepala yang luar biasa,” tuturnya.

Gaya visual Whyper banyak dipengaruhi seniman Asia Timur seperti SilllDA dari Korea dan Keiichi Tanaami dari Jepang. Meski demikian, ia mengolah pengaruh itu menjadi bahasa visualnya sendiri: warna-warna sekunder yang vibran, detail yang padat, dan simbol-simbol yang tak selalu logis. Selain pameran di Mataram, Whyper tengah mengerjakan proyek All the Small Things di Jakarta, yang mendorongnya kembali ke medium kanvas. Ia juga merencanakan kolaborasi dengan seniman Jepang Miranda Yokota untuk sebuah zine dan pameran bersama.

Kurator In-House Pameran, Tara Febriani Khaerunnisa, melihat Without Blue sebagai langkah penting bagi perkembangan seni digital di Lombok. “Whyper sudah punya bahasa visualnya sendiri,” ujarnya.

Tara pertama kali bekerja sama dengan Whyper saat acara Microfest oleh Komunitas Akarpohon Mataram, festival sastra yang dalam dua tahun terakhir mengalihwahanakan teks sastra ke seni rupa. Dari pertemuan itu, lahirlah gagasan untuk menggelar pameran tunggal. Bagi Tara, kekuatan utama karya Whyper ada pada penggunaan warna dan tema yang berani. “Ia punya obsesi terhadap figur perempuan yang terluka, dan itu membentuk identitas visualnya,” ujarnya.

Menurut Tara, seni digital masih sering dianggap kelas dua dibandingkan seni rupa tradisional. “Padahal, yang membedakan hanya mediumnya,” katanya. Ia berharap Without Blue bisa membuka pandangan baru, bahwa seni digital pun layak mendapat ruang dan apresiasi yang sama.

Raw Draw Collective, yang mendukung penyelenggaraan pameran ini, akan terus melanjutkan program Visit! Perupa —upaya mengarsipkan proses kreatif para seniman di Nusa Tenggara Barat. Lewat Without Blue, Whyper menunjukkan bahwa seni digital bukan sekadar produk teknologi, melainkan cara lain untuk merasakan dunia. Di Lombok yang lebih sering diselimuti pameran tradisional, warna-warna dari layar digital kini mulai ikut menyala—meski tanpa biru. (gil)

- Advertisement -

Berita Populer