Presiden Tekankan Tiga Hal Guna Percepat Penanganan COVID-19

Ilustrasi - Kepala Dinas Kesehatan Sumut Alwi Hasibuan (kanan) bersama Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) Runtung Sitepu (kiri) menyaksikan petugas Kemenkes mengoperasikan alat Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk pemeriksaan spesimen swab tenggorokan pasien terduga COVID-19 di Laboratorium Rumah Sakit USU Medan, Sumatera Utara, Kamis (16/4/2020). (Inside Lombok/ANTARA FOTO/Septianda Perdana/foc.)

Jakarta (Inside Lombok) – Presiden Joko Widodo menekankan tiga hal untuk mempercepat penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia yakni pengujian spesimen, penanganan kepulangan tenaga migran, dan percepatan produksi alat kesehatan dan obat COVID-19.

“Saya ingin berbicara tiga hal yaitu pertama pengujian spesimen, juga penanganan kepulangan pekerja migran Indonesia, dan ketiga percepatan produksi alat kesehatan dan obat COVID-19,” kata Presiden Jokowi saat membuka rapat terbatas melalui video conference terkait Percepatan Penanganan Pandemi COVID-19 dari Istana Merdeka Jakarta, Senin.

Ia mengatakan berkaitan dengan perbaikan total kecepatan pengujian spesimen PCR, Presiden baru mendapatkan laporan bahwa kemampuan pengujian spesimen untuk PCR sekarang ini mencapai 4.000-5.000 sampel perhari.

Menurut Kepala Negara, angka itu masih jauh dari target yang ia berikan yaitu 10.000 spesimen perhari.

“Data dari Gugus Tugas, sekarang sudah ada 104 laboratorium yang masuk dalam jaringan lab COVID-19 dan saya ingin memastikan lab-lab tersebut berfungsi maksimal meskipun dari 104 lab tadi, 53 lab rujukan sudah melakukan pemeriksaan dan 51 lab rujukan belum melakukan pemeriksaan,” katanya.

Presiden melihat pada sisi, terutama kesiapan SDM yang terlatih agar perlu lebih diperhatikan lagi, juga yang berkaitan dengan masalah alat pengujian yang masih kurang terutama untuk reagen PCR, RNA, dan VTM yang dimintanya untuk segera diselesaikan pekan ini.

Sementara hal kedua, berkaitan kepulangan pekerja migran Indonesia, ditekankan Presiden agar betul-betul berjalan baik di lapangan.

“Saya menerima laporan bahwa pada bulan Mei dan Juni ada kurang lebih 34 ribu pekerja migran Indonesia yang kontraknya akan berakhir dan mereka berasal dari Jatim 8.900 kurang lebih, dari Jateng 7.400, dari Jabar 5.800, dari NTB 4.200, dari Sumut kurang lebih 2.800, dari Lampung 1.800, dan 500 orang dari Bali,” katanya.

Presiden meminta agar hal itu diantisipasi, disiapkan, dan ditangani proses kedatangannya dengan baik di pintu-pintu masuk yang telah ditetapkan dan diikuti pergerakannya sampai ke daerah.

“Saya kira kita melihat dari jalur udara dua pintu masuk di Bandara Soetta dan Bandara Ngurah Rai, untuk ABK kapal pesiar di Bali dan Tanjung Priok dan pekerja migran Malaysia lewat Batam dan Tanjung Balai. Sekali lagi ingin saya tegaskan agar diberlakukan protokol kesehatan yang ketat dengan memobilisasi sumber daya yang kita miliki dan dipastikan tempat karantina, rumah sakit rujukan bagi para pekerja migran kita tersebut,” katanya.

Hal ketiga terkait laporan kepada Presiden dari Kemenristek dan BRIN yang telah berhasil mengembangkan PCR test kit, non PCR diagnostic test, dan juga ventilator, serta mobile BSL 2.

“Saya minta inovasi-inovasi yang telah dilakukan ini mulai kita bisa produksi secara massal sehingga kita tidak tergantung lagi pada produk-produk impor dari negara lain,” katanya dan berharap akhir Mei atau awal Juni 2020 hal ini sudah bisa mulai diproduksi.

Presiden mengaku telah melihat ada kemajuan signifikan dalam pengujian plasma yang rencananya akan dilakukan uji klinis berskala besar di beberapa rumah sakit dan juga “stem cell” untuk menggantikan jaringan paru yang rusak.

Selain itu ia menambahkan kemajuan juga terlihat pada penelitian “genome sequencing” sebagai tahapan yang sangat penting dalam menuju tahap berikutnya untuk menemukan vaksin COVID-19 oleh Indonesia.

“Saya minta seluruh hasil riset dan inovasi didukung penuh dan perizinan diproses cepat dan didukung penuh oleh BUMN maupun swasta,” kata Presiden Jokowi. (Ant)