Mataram (Inside Lombok) – Provinsi Jawa Barat berhasil kuasai podium pada induk organisasi olahraga (Inorga) Keluarga Pencak Silat Nusantara (KPSN). Provinsi Jabar berhasil empat medali emas pada event Festival Olahraga masyarakat nasional (Fornas) VIII 2025 di Provinsi NTB.
Kompetisi olahraga Keluarga Pencak Silat Nusantara (KPSN) dalam rangka Festival Olahraga Masyarakat Nasional (Fornas) VIII resmi berakhir pada Selasa (28/7) di Stadion GOR Padepokan, Turide, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Jawa Barat berhasil membawa empat medali emas di empat kategori yakni berpasangan, kelompok, perorang ksatria madya putra, dan perorang ksatria madya putri.
Disusul dengan DKI Jakarta yang meraih tiga medali emas dan satu perak. Selain itu, Jatim satu emas, tiga perak dan dua perunggu, Banten dan aceh sama-sama meraih satu medali emas. “Jabar tampil mendominasi mendapat empat medali emas dan satu perak, Jatim mendapat empat perak, satu perunggu,” kata Technical Delegate Burhanuddin Luthfi.
Dirincikan, Kategori pertandingan di Induk Olahraga KPSN sebanyak ada 10 nomor pertandingan. Terdiri dari Perorangan Ksatria Muda Putra Usia 10 – 14 tahun, dan Perorangan Ksatria Muda Putri 10 – 14 tahun. Selain itu, Perorangan Ksatria Madya Putra >14 – 17 tahun dan Perorangan Ksatria Madya Putri >14 – 17 tahun.
Burhanuddin Luthfi menambahkan untuk Perorangan Ksatria Utama Putra >17 – 30 tahun dan Perorangan Ksatria Utama Putri >17 – 30 tahun. Sedangkan untuk Perorangan Master >30 – 50 tahun, Berpasangan Putra (2 orang) 10 – 30 tahun, Berpasangan Putri (2 orang) 10 – 30 tahun dan Berkelompok (3 orang) 10 – 30 tahun.
Ia mengatakan, peserta kegiatan yang mengikuti inorga ini ada 10 Provinsi. Yakni, Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, DIY, Banten, Sumatera Selatan, Aceh, Bengkulu, NTB, Jawa Tengah, Jawa Timur. “Jawa Tengah dapat tiga perak, NTB 2 perak, Sumatera Selatan 1 perak, sedangkan Bengkulu tidak ada medali,” sebutnya.
Burhanuddin mengapresiasi semangat seluruh peserta serta pelaksanaan kegiatan yang berlangsung tertib dan penuh sportivitas. Menurutnya, ajang ini tidak hanya menjadi kompetisi, tetapi juga bagian penting dalam menjaga dan melestarikan budaya olahraga tradisional Indonesia.
“Anak-anak muda dari berbagai provinsi tampil luar biasa. Mereka tidak hanya bertanding, tetapi juga menunjukkan kecintaan pada budaya leluhur melalui olahraga tradisional,” imbuhnya. (azm)

