Wagub Deklarasi di Prancis, Wilayah Samota Resmi Jadi Cagar Biosfer Dunia

Wakil Gubernur NTB, Sitti Rohmi Djalillah dalam forum the Man and the Biosphere (MAB) Programme International Coordinating Council ke 13 di Prancis (Inside Lombok/Humas NTB)

Mataram (Inside Lombok) – Wilayah Samota (Teluk Saleh, Moyo dan Tambora) yang berada di Pulau Sumbawa resmi ditetapkan sebagai cagar biosfer dunia, Rabu (19/06/2019). Wakil Gubernur (Wagub) NTB, Sitti Rohmi Djalillah, mendeklarasikan hal tersebut di hari ketiga pelaksanaan The 31st session of the Man and the Biosphere (MAB) Programme International Coordinating Council di Perancis.

Dalam sambutannya Rohmi menyebutkan bahwa diakuinya wilayah Samota sebagai cagar biosfer dunia memiliki makna penting bagi NTB, khususnya dalam hal cara pengelolaan kawasan tersebut untuk kepentingan pembangunan ekonomi berkelanjutan dan konservasi yang berlandaskan kajian ilmiah.

Atas deklarasi tersebut, Rohmi juga menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi dan masyarakat NTB secara umum telah siap dan bersedia untuk mengambil langkah nyata demi mengimplementasikan konsep cagar biosfer ini.

“(Kami siap) untuk mengalokasikan 30 persen dari kawasan NTB untuk menjadi area konservasi (kawasan hijau), termasuk Taman Nasional Gunung Tambora, Taman Wisata Alam Laut Pulau Moyo, Kawasan Perburuan Pulau Moyo, Taman Wisata Laut Pulau Satonda, Kawasan Perairan Liang dan Pulau Ngali dan area konservasi lainnya di bawah program pengelolaan terpadu,” ujar Rohmi.

Samota sendiri merupakan bagian dari sunda kecil yang terletak di Pulau Sumbawa. Kawasan ini mencakup dataran rendah hingga ke perbukitan dan gunung-gunung yang ketinggiannya bervariasi dari 0 hingga lebih 2000 meter di atas permukaan laut.

“Gunung Tambora memiliki ekosistem vulkanik dan erupsinya telah mengguncang dunia di tahun 1815. Kawasan ini adalah rumah bagi berbagai macam flora dan fauna. Kawasan ini juga memiliki komunitas lokal dengan budaya yang cukup mengesankan,” sambung Rohmi.

Selain memperkenalkan wilayah Samota kepada seluruh peserta forum, Rohmi juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan bahwa cagar biosfer yang dimiliki NTB, yaitu Rinjani di Pulau Lombok dan Samota di Pulau Sumbawa akan menjadi tuan rumah pertemuan 13rd South East Biosphere Reserve Network (SeaBRnet) tahun depan.

Sebagai tambahan informasi, cagar biosfer bisa menjadi muara kegiatan konservasi, pembangunan ekonomi berkelanjutan dan pasokan kebutuhan logistik (Riset, Monev, Pendidikan dan SDM). Cagar Biosfer juga merupakan laboratorium alam bagi pembangunan berkelanjutan.

Memiliki cagar biosfer juga memberikan akses bagi tampilnya NTB di forum Internasional. Misalnya, di Forum ICC MAB yang terdiri dari 122 NEGARA, WNBR (World Network of Biosphere Reserve), SSC (South-South Cooperation), atau SeaBRnet (Southeast Asia Biosphere Reserve Network), dimana Lombok akan menjadi tuan rumah pertemuannya pada tahun 2020 mendatang.

Menurut Rohmi ada beberapa manfaat dari ditetapkanya wilayah Samota sebagai cagar biosfer dunia. Antara lain sebagai penggerak aktivitas jasa ekosistem bagi masyarakat sekitar wilayah tersebut, mendukung kegiatan produksi dan kelestarian budaya, sebagai kawasan konservasi, dan sebagai kawasan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya sebagai laboratorium alam.

“Kami selaku Pemerintah Provinsi NTB, memberikan apresiasi yang tinggi atas pendeklarasian ini. Kami berharap, predikat sebagai cagar biosfer yang telah kita raih ini bisa memberikan manfaat, utamanya bagi masyarakat yang berada di kawasan cagar biosfer,” pungkas Rohmi.