Home Pariwisata & Budaya Warisan Leluhur Suku Sasak, Rumah Adat Limbungan Jadi Destinasi Wajib saat ke...

Warisan Leluhur Suku Sasak, Rumah Adat Limbungan Jadi Destinasi Wajib saat ke Lotim

Sejumlah Rumah Adat Limbungan yang Berada di Dusun Limbungan, Desa Prigi, Kecamatan Suela, Senin (21/03/2020). (Inside Lombok/M.Deni Zarwandi).

Lombok Timur ( Inside Lombok) – Rumah Adat Limbungan merupakan destinasi wisata yang terletak di Desa Prigi, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur. Ini merupakan sebuah warisan nenek moyang Suku Sasak. Hingga saat ini, masyarakat setempat masih memegang teguh warisan leluhur ini.

Berada di dusun ini seakan membawa kita menikmati indahnya suasana zaman dahulu. Baik dari segi arsitektur bangunan rumah dan juga keramah-tamahan masyarakat setempat. Warga dusun adat limbungan ini masih memegang erat adat gotong royong.

Jarak dari Bandara Internasional Lombok (BIL) membutuhkan waktu sekitar 3 jam untuk sampai di rumah adat limbungan ini. Sebelum sampai di rumah adat, pemandangan alam yang sangat indah di Desa Suela sangat memanjakan mata. Para pengunjung akan melewati indahnya perkebunan jagung, dan yang paling menakjubkan pengunjung bisa langsung menikmati indahnya panorama lautan dari ketinggian di desa ini.

Ketika sampai, pengunjung akan disambut oleh rumah adat yang berjejer rapi dan sebuah berugak (saung) tempat berkumpulnya masyarakat setempat. Pada umumnya, rumah adat yang ada di daerah lain memiliki pintu yang dibuka dengan cara didorong dan pada tampak depan bangunan dihiasi dengan jendela. Namun, rumah adat di Dusun Limbungan ini sedikit berbeda.

Dari segi Arsitektur bangunan Rumah Adat Limbungan ini sedikit berbeda, pada pintu bangunan rumah adat ini mirip dengan pintu yang ada di Negara Jepang ataupun Korea. Pasalnya, pintu rumah adat di Limbungan ini dibuka dengan cara digeret ke samping dan tidak ada jendela di bagian depannya.

Bangunan rumah adat ini tidak berubah dengan zaman dahulu, yaitu dindingnya berupa bedek (pagar dari bambu), beratapkan anyaman ilalang, serta lantai tanah. Namun, kehidupan masyarakat setempat sudah sedikit terkontaminasi dengan zaman modern, tapi tidak pada bangunannya.

Berada di rumah adat ini begitu sangat menenangkan, seakan memperlihatkan pengunjung bagaimana kehidupan pada zaman dahulu. Penduduk di rumah adat itu hanya berjumlah 150 kepala keluarga yang terbagi menjadi dua dusun, yaitu Dusun Limbungan Barat dan Limbungan Timur.

Rumah adat yang berada di dataran tinggi tersebut tak hanya menyajikan keunikan rumah adat. Akan tetapi, dari rumah adat tersebut pengunjung bisa menikmati indahnya lautan, pemandangan pulau-pulau kecil, bahkan bisa melihat Pulau Sumbawa dari tempat tersebut.

Namun sayangnya, wisata rumah adat tersebut belum terkelola dengan baik. Namun, pemerintah desa akan berupaya mengelola rumah adat tersebut agar bisa mendatangkan PAD dan kesejahteraan masyarakat.

“Kita masih kita pertimbangkan sebab keadaan masih belum memungkinkan untuk dikelola, karena fasilitas pendukung lainnya belum dibenahi seperti infrastruktur jalan, penataan lingkungan dan renovasi rumah yang belum tertata dengan baik,” ucap Kades Prigi Darmawan belum lama ini.

Kades Prigi ini sedang berupaya mengelola rumah adat tersebut, dengan terfokus pada penataan infrastruktur dan merapikan bangunan rumah adat tersebut. Ia pun berharap agar mendapat intervensi dari Pemerintah Daerah Lotim untuk mendukung pariwisata adat sasak tersebut.

Salah seorang pengunjung, Winawati mengatakan kekagumannya melihat rumah adat tersebut. Terlebih pemandangan yang disajikan dari rumah adat tersebut sangat indah. Akan tetapi ia menyayangkan wisata adat sebagus itu tidak terkelola dengan maksimal.

“Wisata ini sangat bagus, tapi infrastruktur jalan ketika memasuki Limbungan ini masih belum mendapat perhatian. Saya yakin jika ini dikelola dengan baik, pasti akan menjadi wisata favorit,” ucapnya.