Sambal (Patah) Hati – Cerpen Riyana Rizki

138
Ilustrasi oleh Nuraisah Maulida Adnani

“Aku tidur dengan orang lain.”

Kalimat singkat Serena mampu menahan Gantar untuk tidak lagi bicara. Cangkir yang baru saja ia angkat tertahan menuju bibirnya. Sejenak suasana menjadi sangat hening. Serena bukan tidak tahu harus berbuat apa. Nyatanya, ia telah mempersiapkan hari ini dengan begitu matang. Ia hanya menunggu bagaimana Gantar akan bereaksi mendengar pengakuan itu. Sepersekian menit setelah kalimat itu terlontar, Gantar tidak memperlihatkan reaksi apapun. Serena gelisah.

Waktu beberapa menit terasa begitu panjang bagi yang menunggu. Hingga akhirnya Gantar lepas dari kebekuannya. Pertama, ia menyeruput kopi yang sempat tertunda ia lakukan. Kemudian, pinggiran cangkir ia jauhkan dari bibir. Terdengar suara dentingan ketika cangkir bertemu tatakannya. Gantar membersihkan kedua sudut bibir yang Serena lihat sendiri tidak meninggalkan jejak kopi. Gantar meletakkan serbet makan yang ia pakai untuk menyeka sesuatu yang tidak ada di bibirnya. Adegan sederhana itu bagi Serena terasa begitu panjang dan melelahkan.

Hampir sepuluh tahun berkencan, Serena sudah hafal dengan detail karakter Gantar. Laki-laki disiplin yang sungguh pembersih. Segala tindakan dalam kesehariannya begitu terstruktur dan terukur. Tidak ada sesuatu yang ia kerjakan di luar rencana harian, mingguan, bulanan, hingga tahunannya. Laki-laki ini bahkan sudah merencanakan hidup dalam sepuluh tahun ke depan. Oh, ia juga telah memesan liang lahat dan batu nisan atas namanya sendiri.

Serena tahu, dalam diamnya, dalam pikirannya, Gantar sedang menyusun reaksi yang tepat dengan sangat hati-hati. Kehati-hatian itu membuat Serena tambah gelisah.

*

Gantar melepas sendok dan garpu di sepasang tangannya. Piring yang masih penuh ia tinggalkan begitu saja di meja makan dan beranjak ke kamar. Ia merebahkan badan. Tidak menyalakan lampu utama, pun dengan lampu tidur. Gelap membuat keadaan bertambah hening. Gantar memejamkan mata.

“Kami mabuk. Tidak ada yang kuingat selain terbangun di kamarnya.”

Gantar terjaga. Gelap mengepung pandangannya. Ketika matanya sudah bisa beradaptasi, sedikit demi sedikit Gantar bisa mendeteksi ia bangun di kamar tidurnya sendiri. Gantar tidak tahu berapa lama ia tertidur, ia juga tidak ingin mencari tahu.

“…mereka sudah bersusah payah membuatkan farewell party dan aku tidak enak hati menolak.”

Tiba-tiba saja sambungan kalimat Serena yang tadi membangunkan Gantar kembali bergaung di kepalanya. Gantar melarang Serena untuk datang di pesta yang disiapkan untuknya. Pesta itu hanya akan membuat Serena semakin berat meninggalkan pekerjaan yang sudah lebih dari enam tahun ia geluti. Dan nyatanya, Serena tetap datang. Dalam hampir sepuluh tahun perjalanan mereka, ini kali pertama Serena memiliki keputusan sendiri. Lepas dari kontrol Gantar.

Laki-laki itu teman kerja Serena. Satu divisi dengannya. Meski cukup ketat mengatur Serena, Gantar membebaskan Serena bergaul dengan siapa saja. Melakukan apa saja. Asal Gantar tahu dan tentu saja setuju.

Gantar kembali memejamkan mata. Menyimpan segala kegelapan dalam matanya, mencoba tidur tapi gagal. Selain karena pikirannya sudah mulai berkelana, perutnya juga semakin membuat kantuk merasa terusir. Gantar ingat, ia belum makan sama sekali sejak tadi pagi. Sarapan bersama yang ia rancang hanya berakhir dengan menyeruput seteguk kopi dan mengunyah hatinya sendiri.

Gantar beranjak dari kasur ke dapur. Meja makan sudah bersih dari piring yang tadi ia tinggalkan beserta isinya. Dapur sudah gelap. Asisten rumah tangganya tentu sudah pulang. Gantar berharap ada makanan yang bisa ia makan tanpa perlu diolah dulu. Gantar terselamatkan dengan adanya beberapa biji apel. Ketika mengambil apel, mata Gantar tertuju pada wadah plastik merah menyala di barisan paling bawah. Tersembunyi di balik tumpukan sayuran.

Sambal hati. Gantar tahu begitu ia membuka tutup wadah itu. Bau cabai yang kuat menyeruak dan menggelitik hidung hingga membuatnya bersin beberapa kali. Belasan tahun menjadi vegan, Gantar sudah lupa rasanya.

Sialan. Ia teringat Serena. Makanan itu kesukaannya. Ketika Gantar memintanya mengatur pola makan, Serena berontak. Gantar yang merupakan tipe pengatur tidak mau kalah, tapi ia melakukan dengan jalan persuasif. Sedikit demi sedikit ia membentuk Serena mengikuti pola hidupnya. Serena bisa menahan diri untuk mengikuti pola Gantar, tapi tidak dengan sambal hati.

Serena meminta asisten rumah tangga Gantar untuk membuat sambal hati setiap Sabtu pagi karena ia akan datang untuk sarapan bersama. Dengan yang satu ini, Gantar tidak melarang. Sambal hati adalah cara Serena mengingat mendiang ibunya.

*

Dari cangkir yang isinya tidak berkurang banyak, Gantar mengalihkan pandangan ke sepasang mata Serena. Mata yang berdusta. Ada yang disembunyikan perempuan ini, pikir Gantar. Otaknya bekerja semakin keras. Tidak hanya untuk menemukan cara bereaksi tetapi juga menemukan titik mana dari kisah ini yang direkayasa.

“Kamu yang memutuskan kita ke mana hari ini?”

Gantar menyerah. Ia tidak menemukan reaksi yang tepat untuk merespons pengakuan Serena. Gantar bukannya tak marah, bukannya tak kecewa, bukan pula tak sedih. Ia tak tahu rasa apa yang dominan dalam hatinya.

“Kita tidak akan ke mana-mana,” balas Serena setelah mampu mengendalikan diri atas kekagetannya dengan reaksi Gantar. “Pun dengan hubungan ini.”

*

Gantar menggigit apel, mengunyah, dan menelannya. Apel yang hambar. Gigitan kedua, mengunyah, dan menelannya. Masih tidak berasa. Gantar masih ingat rasa apel. Tapi lidahnya tidak mampu membaca rasa itu. Sambil mengunyah gigitan ketiga, Gantar memandang sambal hati yang kini telah berpindah ke meja makan. Gantar menelan kunyahannya. Tidak apa tidak berasa, Gantar hanya ingin mengisi perut.

“Kalau merasa bersalah, harusnya minta maaf. Bukan minta putus,” kata Gantar pada sambal hati seolah itu Serena. Gantar mendengus, “Sepuluh tahun yang sia-sia.”

Untuk pertama kali hidup tidak berjalan sesuai rencana, di luar kendalinya. Gantar bukannya tidak berusaha mempertahankan rencana hidupnya dengan Serena. Ia mengatakan telah memaafkan Serena—meski tidak ada kata maaf yang terlontar. Ia berjanji tidak akan mengungkit atau menyalahkan Serena, bahkan ketika ia ingin. Gantar pun telah menawarkan untuk Serena menghilang sebentar dan kembali setelah rasa bersalahnya memudar. Tapi semakin keras ia menahan, semakin kuat dorongan Serena untuk pergi. Gantar belum pernah menemukan sisi Serena serupa ini.

Mungkin salah meminta Serena keluar dari pekerjaan untuk menjadi ibu rumah tangga, pikir Gantar. Ia sangat mencintai profesi dan kantornya yang sekarang. Sama seperti keniscayaan meminta Serena tidak lagi makan sambal hati kesukaannya. Atau mungkin jiwa berontaknya sudah lelah ia pendam dan keberanian itu datang di hari-hari menjelang pernikahan mereka.

Bertemu dengan Serena membuatnya ingin menjalani hubungan serius. Tahun berjalan dengan sekelumit pertimbangan, Gantar makin mulai merancang rencana baru dengan memasukkan pernikahan di dalamnya. Serena mulai mengabari teman-temannya, mulai dari yang terdekat hingga yang baru ia kenal. Mulai pula membawa Gantar pada satu persatu keluarga. Mulai mencari wedding organizer untuk mewujudkan pernikahan impiannya. Serena pernah mengatakan kalau mimpinya adalah menikah dengan Gantar di tepi pantai. Dan itu tetap akan menjadi mimpi.

Siang itu setelah mendengar pengakuan Serena, Gantar membakar semua undangan yang akan dikirim dalam dua hari ke depan. Menghubungi semua vendor yang terlibat dalam pernikahan mereka. Menghubungi orangtuanya, berjanji akan menjelaskan lebih jauh tapi tidak kali ini, mungkin nanti yang nanti-nanti. Satu persatu teman mulai menelepon meminta kebenaran yang mereka dengar, bahkan teman-teman Serena juga menguhubungi Gantar. Serena tidak bisa dihubungi setelah menulis berita perpisahan mereka di media sosial. Gantar mendengus, Serena yang membuat masalah tapi ia yang menyelesaikan.

Gantar melempar foto-foto mereka ke dalam api. Mulai dari foto pertama yang mereka cetak hingga foto prewedding yang diambil dengan konsep urban. Gantar sudah meyakini tidak ada jalan kembali. Serena yang menutupnya.

Apel di genggamannya sudah hampir habis. Tidak ada yang ia rasakan selain perut yang terisi. Tapi dada Gantar masih kosong-yang-penuh, penuh-yang-kosong. Sore tadi ketika membersihkan diri setelah membakar semua kenangan Serena, Gantar memandang dirinya di cermin. Ia melihat wajah yang begitu menyedihkan. Ia memaksa dirinya untuk menangis. Mungkin bisa melegakan dada yang terasa penuh dan kosong di waktu yang bersamaan. Tetapi sebulir pun tak ada yang keluar dari matanya.

Gantar beranjak ke kamar, melemparkan sisa apel ke tempat sampah dan sambal hati ia biarkan sendirian di meja makan. Gantar rebah, memejamkan mata tapi tidak juga masuk dalam tidur. Tak ada adegan mengguling-gulingkan badan. Ia hanya memaksa retinanya untuk menatap dalam gelap.

Gantar bosan. Ia keluar kamar menuju teras belakang. Awalnya ia yang tidak memiliki niat apa-apa menuju teras belakang berganti haluan. Ia menghidupkan treadmiil dan mulai berjalan pelan. Langkahnya bertambah cepat saat ia menaikkan kecepatan putaran. Semakin cepat. Berlari kecil. Berlari cukup kencang hingga ia kelelahan dan menyerah.

Sembari berjalan masuk, Gantar membuka kaos yang basah oleh keringat dan melemparnya ke keranjang cucian. Dengan bulir-bulir keringat sesekali menggerayangi punggung dan dadanya, Gantar menuju dapur. Ia lapar.

Sambal hati itu masih sendirian di meja makan. Gantar membukanya. Aroma menyengat kembali menabrak hidung. Sambal yang tadinya membeku sudah mulai cair. Terlihat potongan hati di dalamnya. Gantar tak suka jeroan. Tak sehat menurutnya. Tetapi ada dorongan untuk menggerakkan tangannya mendekat. Telunjuk Gantar mencolek permukaan sambal kemudian berpindah ke mulutnya. Gantar tersentak. Pertama, oleh rasa pedas yang timbul ketika telunjuk berlumur sambal menyentuh permukaan lidah. Bagaimana mungkin rasa pedas yang luar biasa itu bisa berterima di mulut dan perut Serena selama bertahun-tahun. Kedua, ia penganut pola hidup sehat yang ketat.

Dengan rasa pedas yang terasa memelintir lidah, Gantar justru memiliki dorongan yang lebih kuat untuk menjilatinya sekali lagi. Gantar menolak gejolak yang muncul entah dari mana. Tapi sensasi yang ditimbulkan pada tubuh Gantar oleh sambal itu membuat lidahnya kembali menagih rasa yang sama.

Kali kedua Gantar mengambil lebih banyak dan menghisapnya lebih lama. Rasa pedas yang tadinya hanya terasa di lidah menjalar turun ke dada. Panas luar biasa. Dorongan itu semakin kuat padahal Gantar merasakan perutnya menolak. Gantar masih merasa bersalah, tapi tubuhnya menagih.

Gantar mulai sulit bernapas karena pedas. Tetapi lidah dan dada meronta ingin merasakan pedasnya sambal hati. Gantar mengulangi lagi dan lagi sampai sambal tandas. Gantar kehilangan rasa bersalahnya sebagai penganut gaya hidup sehat yang ketat.

“Tidak. Hanya sambalnya,” kata Gantar membuat pembenaran meski ia tahu sambal itu telah bercampur dengan hati. Mungkin hati kambing, hati sapi, hatinya, atau hati Serena.

Tersisa hanya seonggok hati dibaluri sambal yang cukup tebal. Gantar menolak godaannya sendiri. Lidahnya sudah terasa sangat tebal, dadanya semakin panas, perutnya terus bergejolak. Rasa pedas ini sudah di luar kewajaran. Gantar melihat Serena dalam hati yang dibaluri sambal itu. Mengingat Serena yang selalu lahap dengan lauk sambal hati. Yang selalu berterima kasih atas pemberian sekecil apapun. Yang tidak pernah melepas senyum dari wajahnya. Yang selalu menyapa ramah pada siapa saja. Yang selalu bernegosiasi ketika Gantar mengatur. Yang selalu mengeluhkan lelahnya ia dengan permintaan dan aturan Gantar.

Dorongan itu makin kuat. Tangan Gantar mengambil hati dengan lumuran sambal tebal. Melahap dalam sekali suap. Tubuh Gantar bergetar. Liurnya mengalir deras saat ia mengunyah untuk pertama. Dadanya sesak, serasa ingin meledak. Rasa pahit dari hati, panas dan pedas dari sambal mengoyak dada Gantar. Ia menahan napas. Matanya memanas. Tidak lama pandangannya tertutup genangan. Genangan itu tumpah bersama berkelebatnya kenangan tentang Serena.

Gantar menelan hati yang ia kunyah. Pahit hati masih tersimpan di lidahnya. Begitu melewati dada, kunyahan yang ia telan tadi terasa berhenti. Panas sambal semakin menyesakkan dadanya. Liurnya yang pahit ia kumpulkan untuk kemudian ia telan sebagai upaya membantu laju hati yang dikunyah masuk ke lambung. Sambil memejamkan mata—yang menguras semua genangan dan menumpahkannya keluar—Gantar mendorong semua hal dalam dadanya, rasa pedas, panas, dan sakit akibat hati yang terasa tersangkut. Sangat terasa ada gumpalan yang terdorong turun. Seperti bergelut dengan kerongkongannya dan…hilang. Terdengar helaan napas. Penuh-yang-kosong; kosong-yang-penuh hilang dari dadanya. Yang tersisa sekarang hanya rasa pahit dan pedas di mulut yang tiba-tiba membuat mata Gantar terus memproduksi airmata. Gantar terus mengeluarkannya, terus, terus mengurasnya hingga tak ada yang tersisa. Dan nanti jika ada yang harus membuatnya menangis ia tidak akan bisa, sebab tidak ada lagi air mata yang tersisa.

*

IMG 20220220 WA0007Riyana Rizki lahir di Masbagik, Lombok Timur. Tahun 2015 mengikuti Workshop Cerpen Kompas di Jakarta. Cerita pendeknya telah dipublikasikan di beberapa media online dan offline. Tahun 2018 terpilih sebagai Emerging Writer dalam Makassar International Writers Festival. Selain mengajar, ia juga terlibat dalam Sanggar EKS dan Yayasan Saling Jaga Indonesia. Buku kumpulan cerpen teranyarnya bertajuk _Jangan Pulang Jika Kamu Perempuan_. Ia bisa disapa di instagram @riyanarizki