Simpang Lima Ampenan – Puisi Lalu Mungguh

186
Ilustrasi oleh Nuraisah Maulida Adnani

Amnesia

aku dibangunkan dengan kata-kata tua
lalu aku melihat kalender
lepas lagi satu angka
usia tergores pada dahi, kulit dan mata
aku ini keberapa
seperti kemarin,
sorenya, aku kembali amnesia
angka yang gugur,
telah kukubur

Pejeruk, 23 Desember 2021

 

Simpang Lima Ampenan

bioskop tua di pojok jalan, telah operasi plastik
wajahnya pucat digerayangi lampu kerlap kerlip
tak ada lagi cidomo dengan kusir tua
terkantuk pada bangku kosong
penumpangnya telah hilang
dilarikan mesin dari kredit garong
semua menjadi deru membiak debu
papan-papan reklame membual di setiap pojok
entah, apa ada yang membacanya

aku mencarimu di salah satu sudutnya
barangkali pupur dan gincumu masih beraroma masa lalu
“ia telah lama pergi, sejak simpang lima ini lupa diri”,
kata lampu temaram yang lelah berdiri
menunggu waktu.

Ampenan, 16 November 2021

 

Setelah Pelarungan 

barangkali saja
bukan engkau yang menjauh
meski telah aku larung mantra tak berparuh
aku mengais namamu
yang tertumbuk gunung debu
dalam kelu
di lima waktu

setelah saling tatap
siapa yang kan menetap
pada waktu yang kedap
karena
kau tak mungkin menjauh
setelah kulepas sauh
pada dermagaku yang jenuh tanpa gemuruh
setelah pelarungan ini
aku kembali sepi di sudutku sendiri

Gunungsari, 21 Februari 2022

IMG 20220522 WA0005Lalu Mungguh, lahir di Mangkung Lombok Tengah. Kini tinggal di Pejeruk Ampenan. Sehari-hari mengajar di SMAN 1 Gunungsari. Tulisan dalam bentuk artikel opini beberapa kali telah dimuat di media cetak lokal.