Lombok Tengah (Inside Lombok) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Tengah (Loteng) melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) menggelar Diskusi Terpumpun Menghadirkan Layanan Pendidikan Inklusif Tahun 2026 di Ballroom Kantor Bupati. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut pendataan Profil Belajar Siswa (PBS) serta verifikasi dan validasi asesmen lanjutan melalui jejaring Puskesmas di bawah koordinasi Dinas Kesehatan. Forum tersebut difokuskan pada percepatan layanan pendidikan inklusif berbasis data di daerah.
Kepala Bapperida Loteng, Lalu Wiranata, menyampaikan dari 9.934 peserta didik yang terdata, sebanyak 5.317 siswa teridentifikasi memiliki hambatan fungsional belajar dengan tingkat beragam. Rinciannya, 540 siswa kategori berat, 2.818 kategori sedang, dan 1.959 kategori ringan.
“Dari 9.934 peserta didik yang terdata, sebanyak 5.317 siswa teridentifikasi memiliki hambatan fungsional belajar dengan tingkat beragam, yakni 540 siswa kategori berat, 2.818 kategori sedang, dan 1.959 kategori ringan. Data ini menjadi dasar penting dalam perencanaan layanan pendidikan yang lebih terarah dan sistematis,” ujarnya.
Menurutnya, temuan tersebut berkaitan dengan capaian mutu layanan pendidikan, termasuk pembentukan karakter, peningkatan literasi dan numerasi, serta penanganan angka anak tidak sekolah. Data PBS yang telah divalidasi Dinas Kesehatan kini menjadi salah satu basis dalam perencanaan pembangunan daerah.
Wakil Bupati Loteng, HM. Nursiah, menegaskan data 5.317 siswa dengan hambatan fungsional belajar menjadi dasar pemerintah daerah untuk mengambil langkah strategis. “Pendidikan inklusif tidak dapat diselesaikan oleh satu sektor saja. Diperlukan kolaborasi lintas perangkat daerah pendidikan, kesehatan, sosial, hingga pemerintah desa, dukungan dunia usaha, organisasi penyandang disabilitas, dan seluruh elemen masyarakat,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi dukungan mitra pembangunan, termasuk perwakilan Kedutaan Besar Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) serta Program INOVASI dalam penguatan pembangunan berbasis data dan peningkatan kapasitas satuan pendidikan. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memenuhi lima aspek akomodasi layak, yakni akses fisik dan lingkungan, pembelajaran adaptif, penyediaan alat bantu dan teknologi asistif, dukungan sosial-emosional, serta tata kelola sekolah yang akuntabel.
“Forum ini adalah momentum percepatan menghadirkan layanan pendidikan inklusif bagi semua anak Loteng. Kita ingin memastikan tidak ada satupun anak yang tertinggal dalam memperoleh hak pendidikan yang bermutu,” tandasnya.

