BerandaLombok TimurHarga Plastik Naik, UMKM di Lombok Timur Tertekan

Harga Plastik Naik, UMKM di Lombok Timur Tertekan

Lombok Timur (Inside Lombok) – Kenaikan harga bahan baku plastik dalam beberapa waktu terakhir mulai membebani pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Lombok Timur, terutama pedagang makanan dan minuman yang bergantung pada kemasan sekali pakai. Harga kantong plastik ukuran sedang yang sebelumnya sekitar Rp25 ribu per ikat kini naik menjadi Rp45 ribu hingga Rp50 ribu.

Kondisi ini dirasakan langsung oleh pedagang bakso keliling, Bambang Hartono (52), yang mengaku kesulitan menyesuaikan harga jual di tengah meningkatnya biaya operasional. Ia masih mempertahankan harga bakso Rp10 ribu per mangkok meski biaya bahan baku terus naik.

“Sekarang harga plastik sudah terasa mahal, tapi saya belum berani menaikkan harga bakso yang masih Rp10 ribu per mangkok,” ujarnya saat ditemui, Selasa (14/4/2026).

Bambang yang berjualan di sekitar kantor Bupati Lombok Timur menyebut kenaikan harga bahan baku, termasuk plastik, diduga dipengaruhi situasi global. Ia mengaku kemungkinan akan menaikkan harga jual jika kondisi tersebut terus berlanjut.

“Pelanggan sudah terbiasa dengan harga sekarang, tapi kalau kondisi seperti ini terus, mau tidak mau nanti kita naikkan juga,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Sakinah yang merasakan penurunan keuntungan akibat naiknya biaya kemasan. Meski demikian, ia masih mempertahankan harga jual sejumlah menu seperti soto Rp7 ribu, nasi campur Rp10 ribu, pecel Rp5 ribu, dan gorengan Rp1.000 per buah. “Kalau dihitung, pendapatan jadi berkurang karena biaya kemasan naik,” ungkapnya.

Sakinah mengaku dalam sehari dapat menghabiskan hingga tiga bungkus plastik kecil dan satu hingga dua bungkus plastik ukuran sedang untuk melayani pembeli. Ia memilih menunggu sambil mengevaluasi kondisi usaha sebelum mengambil keputusan menaikkan harga. “Nanti kita lihat dulu, kalau memang tidak mencukupi, mungkin pelan-pelan kita sesuaikan harga,” ujarnya.

Para pedagang berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi untuk menstabilkan harga bahan baku atau menyediakan alternatif kemasan yang lebih terjangkau agar usaha kecil tetap bertahan. “Kami tetap harus beli meski mahal, tapi harapannya ada jalan keluar supaya usaha kecil seperti kami bisa bertahan,” tutup Sakinah.

- Advertisement -

Berita Populer