13 Anak Asal Kediri Menikah Dini saat Pandemi

Suci (Ketua KPAD Kediri) dan Supriyadi (Pemerhati anak), saat ditemui di kantor Desa Kediri. Rabu (07/10/2020). (Inside Lombok/Yudina Nujumul Qur'ani).

Lombok Barat (Inside Lombok) – Lombok Barat dinilai cukup berhasil menekan angka pernikahan dini beberapa tahun terakhir ini. Tetapi di masa pandemi ini justru adanya angka peningkatan kasus pernikahan dini, salah satunya di Desa Kediri Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat.

“Kalau dibanding dengan tahun lalu, itu pernikahan dini cuma 3 yang kita tangani. Dan di penghujung tahun 2018 itu justru cuma ada 1 kasus. Tapi tahun ini malah meningkat” ungkap Suci, selaku Ketua Kelompok Perlindungan Anak Desa (KPADes) Kediri, saat ditemui di Kantor Desa Kediri, Rabu (07/10/2020).

Diakuinya, untuk tahun ini bahkan terdapat 13 kasus pernikahan anak usia dini yang terjadi di Desa Kediri di masa pandemi ini.

“Berdasarkan data yang tercatat dan sudah kita pilah, memang pernikahan usia anak itu ada 13 yang gagal kita belas (cegah)” akunya.

Di mana pada data yang sebelumya disebutkan dari 19 kasus, ternyata 4 kasus berhasil dibelas (dicegah) oleh KPADes bersama dengan pemerintah desa. Dan 4 pasangan tersebut pun sudah berhasil diberikan pemahaman dan edukasi untuk menunda dulu pernikahan hingga mereka lulus sekolah.

Sementara 2 kasus yang tercatat tersebut, kata Suci, sudah dapat dikategorikan bukan usia anak dan lulus sekolah.

“Memang, pernikahan dini yang terjadi dan gagal kita belas ini juga adanya faktor keluarga (pola asuh) yang kurang baik di keluarga jadi dia memilih untuk menikah” ungkapnya.

Hal senada juga disebutkan oleh Supriyadi, yang pernah menjadi ketua KPADes Kediri. Ia mengatakan bahwa peningkatan kasus pernikahan di masa pandemi ini selain dari faktor keluarga, juga karena kurangnya aktivitas positif yang dilakukan anak.

“Sejak pandemi ini, karena tidak ada kesibukan lain, kecuali medsos. Karena sekolah dibekukan, jadi banyak anak yang stres” bebernya.

Sehingga hal itu kata Supriyadi, yang mendorong banyak anak-anak yang ingin memiliki kenyamanan dan merasakan suasana baru dan banyak yang memilih menikah. Bahkan hal tersebut justru, lanjut Supriyadi, banyak yang didasari karena faktor coba-coba.

“Tidak hanya pernikahan, tapi angka perceraian juga mengalami peningkatan” ungkapnya.

Bahkan untuk bulan Oktober ini saja, dirinya mengakui mendampingi 3 pasangan yang bercerai.

“Kalau yang saya dampingi ini kan mereka rata-rata di bawah usia dan mereka ini tidak terlapor” sebutnya.

Terkait dengan 13 kasus pernikahan dini yang gagal dibelas tersebut, KPADes Kediri terus berupaya untuk membantu mengarahkan mereka supaya dapat tetap melanjutkan pendidikannya.

“Kami KPADes harus memastikan pendidikannya tidak terputus, tapi kalau mereka malau untuk disekolah semula. Maka kami arahkan mereka ke PKBM atau pun sekolah terbuka” jelasnya.

Dan yang sudah terlanjur menikah, mereka diberi pemahaman untuk dapat menunda dulu memiliki anak. Mengingat bahwa organ reproduksinya yang secara usia dinilai belum siap.

Terkait hal tersebut, Camat Kediri, Hermansyah pun menyebut, pentingnya desa memiliki KPADes. Sehingga dirinya mendorong ke depannya, supaya setiap desa yang ada di wilayahnya dapat memiliki KPADes.

“Dari 10 desa yang ada di kecamatan Kediri, hanya 2 desa yang aktif dalam hal ini, Kediri dan Jagaraga Indah” ungkapnya.