Dinkes: Tes Cepat COVID-19 Sebanyak 10 Warga Cakranegara Barat Reaktif

271
Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usman Hadi. (Foto: Inside Lombok/ANTARA News/Nirkomala)

Mataram (Inside Lombok) – Dinas Kesehatan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menyebutkan hasil tes cepat terhadap 37 warga di Lingkungan Panagara Kelurahan Cakranegara Barat, terkonfirmasi 10 orang di antaranya dinyatakan reaktif Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

“Ke 10 warga yang reaktif tersebut, hari ini sudah kami arahkan ke RSUP NTB untuk dilakukan pengambilan sampel swab,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usman Hadi di Mataram, Rabu.

Usman mengatakan selain 10 orang yang hasil tes cepatnya reaktif COVID-19, pihaknya juga mengajak dua orang warga lainnya yang hasil tes cepatnya negatif untuk diswab karena yang bersangkutan mengalami meriang dan suhu  tubuh tinggi.

Kegiatan tes cepat bagi warga di Lingkungan Panagara, Kelurahan Cakranegara Barat ini merupakan kegiatan penelusuran kontak setelah enam orang terkonfirmasi positif COVID-19, pada waktu yang sama dan ternyata merupakan satu keluarga.

“Sepuluh warga yang hasil rapid testnya reaktif COVID-19 tersebut, saat ini masih berada di rumah masing-masing untuk karantina mandiri sambil menunggu hasil swab. Jika swabnya positif barulah kita isolasi di rumah sakit,” katanya.

Enam warga yang terkonfirmasi positif COVID-19 pada Senin 4 Mei 2020, merupakan satu keluarga itu adalah, pasien nomor 271 inisial MS, kemudian nomor 272 isinial ZH, nomor 273 inisial RRH, nomor 274 inisial M, selanjutnya nomor pasien 270 inisial N dan terakhir nomor pasien 275 inisial ENP.

Satu keluarga pasien di Kelurahan Cakranegara Barat ini, katanya, terkonfirmasi positif COVID-19, namun tidak memiliki riwayat perjalanan ke daerah pandemi tetapi memiliki kontak erat dengan pasien positif COVID-19 (transmisi lokal), dan saat ini dirawat di ruang isolasi RSUD Kota Mataram dalam kondisi baik.

Selain dilakukan penelusuan kontak di sekitar rumah kediaman yang bersangkutan, juga akan dilakukan di Pasar Mandalika atau Pasar Bertais karena yang bersangkutan diketahui berprofesi sebagai pedagang di Pasar Bertais.

“Jika hasil penelusuran di Pasar Bertais banyak reaktif, kemungkinan terburuknya Pasar Bertais akan ditutup sementara. Tapi itu sangat tergantung dari kebijakan Wali Kota Mataram,” katanya. (Ant)