Konstruksi Kereta Gantung Rinjani Diperkirakan Mulai Agustus

109
Ilustrasi kereta gantung (Image source : Suara NTB)

Mataram (Inside Lombok) – Proyek pembangunan kereta gantung menuju kaki Gunung Rinjani yang berada di Batukliang Utara, Lombok Tengah akan segera direalisasikan. Tim survei bersama Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB akan melakukan kunjungan ke lapangan dengan balai KPH Rinjani untuk memastikan perencanaan DED proyek investasi itu pada Kamis (7/7) mendatang.

“Mudah-mudahan kalau tim ini selesai, mereka 14 hari akan melakukan survei. Harapannya awal Agustus desain sudah jadi, mudahan juga sudah mulai awal konstruksinya,” ujar Kepala DPMPTSP NTB, Muhammad Rum kepada Inside Lombok saat ditemui di ruangannya.

Kebutuhan dana untuk proyek itu akan dipenuhi oleh pengusaha asal China dengan menggandeng PT Indonesia Lombok Resort. Anggaran yang disiapkan pun mencapai Rp600 miliar, yang disetujui oleh Duta Besar Tiongkok di Jakarta.

Pengajuan dana ini disebut Rum sudah mendapat lampu hijau. Setelah persetujuan pencairan, dana tersebut akan dikirim dari Tiongkok ke PT Indonesia Lombok Resort dengan estimasi waktu 1 bulan.

“Yang diajukan Rp600 miliar, yang akan dikirim dalam 3 tahap sebesar Rp200 miliar dulu sampai tiga kali. Memang untuk pekerjaan kereta gantung tidak mahal, itu kan sekitar Rp2,2 triliun jumlah investasinya,” tuturnya.

Sebagai informasi, pembangunan proyek kereta gantung Rinjani nanti akan ditangani langsung oleh PT. Indonesia Lombok Resort yang merupakan perusahaan milik investor asal Tiongkok. Sebelumnya investor ini juga telah menyerahkan uang jaminan investasi kepada Pemprov NTB sebesar Rp5 miliar.

Lokasi pembangunanya sendiri berada di Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah, dengan total luas lahan yang disiapkan 500 hektare, sebagai lokasi pembangunan Kereta Gantung, disertai dengan jalur kereta sekitar 10 kilometer (Km), dengan dilengkapi fasilitas pendukung lainnya.

Di sisi lain, Rum mengakui rencana investasi tersebut masih menuai pro kontra. Kendati pihaknya memastikan rencana investasi yang dibuat tidak akan merusak hutan, dan tidak masuk ke dalam wilayah Taman Nasional Gunung Rinjani, melainkan hanya sampai perbatasannya.

Sementara dari sisi masyarakat diproyeksikan pihaknya akan terbantu, terutama mereka yang bekerja sebagai porter. Pasalnya investasi kereta gantung tersebut dinilai akan membuka lapangan kerja. Karena pembangunan kereta gantung ini tidak sampai ke area Segara Anak maupun Puncak Gunung Rinjani.

“Ketika sampai di perbatasan (TNGR), porter menyambut para tamu. Kemudian dipangkatkan barangnya sampai Danau Segara Anak. Berarti masih ada kepastian menciptakan lapangan kerja,” jelasnya.

Bahkan salah satu yang penting adalah ada keterjaminan pengawasan secara melekat pada kawasan hutan. Serta tidak akan terjadi penebangan liar pohon.

Terpisah, Kepala Dinas LHK NTB, Julmansyah mengatakan progres rencana investasi kereta gantung Rinjani saat ini masih dalam tahapan survei dan belum selesai dilakukan. Jalur sementara dari Lombok Tengah kawasan hutan KPH Pelangan Tastura dan TAHURA.

“Jalur dari Lombok Tengah ini bagian utara tepatnya di Batukliang Utara sampai batas mananya kita tunggu hasil survei,” ujarnya.

Sementara beredar informasi bahwa jalurnya akan melintasi 3 desa. yakni Desa Karang Sidemen, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), kemudian Desa Pakuan dan Desa Sesaot, Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat (Lobar). Apalagi pembangunan kereta gantung Rinjani ini menjadi polemik di tengah masyarakat, lantaran dinilai akan merusak hutan.

“Tidak ada dari Sesaot dalam rencana awal dari Batukliang Utara, ini mereka sedan survei trayeknya. Nanti di dokumen lingkungannya akan lebih jelas, kemudian tim mereka akan sosialisasi dan lain-lain setelah trayeknya jelas dari mana ke mana dan berapa panjangnya,” jelasnya. (dpi)