Marak Tawuran Pelajar, Polresta Mataram Akan Tindak Pelaku

156
Tawuran pelajar yang terjadi di Kota Mataram beberapa waktu lalu (Inside Lombok/ist)

Mataram (Inside Lombok) – Tawuran pelajar yang marak terjadi di Kota Mataram meresahkan warga. Bahkan belum lama ini terjadi tawuran antar pelajar di wilayah Selagalas yang akhirnya dibubarkan warga sekitar, lantaran ditakutkan adanya korban, baik dari pelajar maupun warga sekitar. Melihat kondisi itu, Polresta Mataram memastikan akan menindak tegas pelaku tawuran.

Kasat Reskrim Polresta Mataram, Kompol Kadek Adi Budi Astawa mengatakan pihaknya pasti akan melakukan penegakan hukum jika ada kelompok masyarakat atau pelajar yang melakukan tawuran. “Apakah bentuknya mengamankan pelaku, barang bukti atau proses selanjutnya penegakan hukum secara pidana,” ujarnya.

Tetapi jika terkait masalah preventif, Polsek dari fungsi Sabhara pasti nanti melaksanakan kegiatan patroli di kawasan yang memang kerap terjadi tawuran pelajar. “Nanti coba saya konfirmasi juga ke Kapolseknya biar di fokuskan di sana (wilayah tawuran pelajar, Red). Termasuk juga dari Kasat Linmas mungkin menggerakkan Bhabinkamtibmas untuk sosialisasi di sekolah-sekolah,” tuturnya.

Menurutnya, tawuran pelajar ini kerap terjadi hanya karena persoalan kecil antar pelajar. Padahal tindakkan yang dilakukan oleh para pelajar yang tawuran ini merugikan diri sendiri dan juga orang lain.

Apalagi posisi mereka yang berstatus sebagai pelajar. Untuk itu perlu ada kesadaran dari pelajar bahwa setiap persoalan tidak semua dilakukan dengan kekerasan ataupun perkelahian.

Sementara itu, untuk mengantisipasi terjadinya tawuran pelajar ini tentu dilakukan penyuluhan juga ke sekolah-sekolah agar tidak melakukan hal tersebut. Nantinya yang berperan untuk penyuluhan ini dari fungsi Linmas punya tugas, mungkin nanti melibatkan para Bhabinkamtibmas di sekolah-sekolah.

“Itu ada giat penyuluhan disana karena kan sekarang satu kelurahan satu Bhabinkamtibmas. Sudah dijalan, tapi mungkin belum mengcover semuanya dan kadang memang ya yang bisa kita lakukan hanya penyuluh apakah tingkat kesadaran siswa tinggi atau rendah, kan tidak bisa memaksakan,” jelasnya. (dpi)