Inspiratif, Gadis Asal Pringgasela Ini Ubah Limbah Daun Nanas Jadi Serat Benang Bernilai Ekonomis

509
Siti Humaeraq saat memilih daun nanas yang akan diolah, Rabu (03/08/2022) (Inside Lombok/M.Deni Zarwandi)

Lombok Timur (Inside Lombok) – Siti Humaeraq, gadis asal Desa Jurit Baru, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur (Lotim) berhasil mendaur ulang limbah daun nanas menjadi serat yang bernilai ekonomis. Kegiatan daur ulang limbah daun nanas tersebut mulai ia geluti lantaran melihat banyaknya limbah daun nanas yang dibuang begitu saja oleh masyarakat di desanya.

Ide mengolah daun nanas untuk diambil seratnya pun muncul melalui diskusinya bersama dosen dari fakultas tempatnya menempuh pendidikan. Serat yang berhasil diambil kemudian dapat dipintal menjadi benang dan produksi turunanya.

“Ketika melihat potensi itu saya dikenalkan langsung oleh dosen saya kepada pihak Bank Sampah NTB Mandiri tentang pengolahan limbah daun nanas itu sendiri,” tuturnya kepada Inside Lombok, Rabu (03/08).

Akhirnya Humaeraq mendapatkan dukungan dari Bank Sampah NTB Mandiri untuk pengadaan mesin yang dapat mengolah limbah daun nanas itu sendiri. Dengan begitu Humairaq mampu menyulap limbah menjadi sebuah produk yang bernilai ekonomis dengan memberdayakan para petani nanas setempat.

“Sekitar 40 persen lahan di Desa Jurit Baru ini adalah lahan nanas, jadi limbah daun nanas itu kita beli ke para petani dengan harga Rp30 ribu per kwintalnya,” katanya. Namun dalam pengolahan daun nanas itu sendiri bisa dikatakan tidak mudah, pasalnya dalam menghasilkan serat yang memiliki kualitas yang bagus harus melewati masa penjemuran setelah dilakukan pengolahan.

“Jadi setelah kita olah di mesin pencacah, serat tidak langsung siap dipasarkan tapi harus melewati penjemuran terlebih dahulu,” jelasnya. Saat ini pengolahan limbah daun nanas sendiri tidak bisa dilakukan setiap hari melainkan harus menanti masa panen tiba untuk mendapatkan daun nanas.

Tak hanya itu, kendala lainnya yakni ia tidak bisa berproduksi apabila musim penghujan tiba dikarenakan serat nanas tidak bisa dilakukan penjemuran. “Kesulitannya kalau lagi musim hujan itu kita tidak produksi, soalnya hasil seratnya nggak bisa di jemur, jadinya benangnya kadang rusak, ” ungkapnya.

Humaeraq mulai berproduksi serat daun nanas sejak 2020 lalu dengan mengandalkan dua mesin pencacah yang mampu menghasilkan satu kilogram serat nanas dalam seminggu, saat ini produksi terus berkembang tambahan dua alat pencacah sehingga dalam seminggu ia berhasil menghasilkan 4-5 kilogram serat daun nanas.

“Satu kilogram serat kita dapatkan dari satu kwintal limbah daun nanas, dan harga serat daun nanas ini sendiri yakni Rp100 per kilogram,” ujarnya.

Dikatakannya bahwa serat daun nanas memiliki keunggulan dibandingkan dengan serat bahan benang biasa yakni lebih kuat, tahan lama dan kualitasnya yang lebih baik. Adapun dari serat daun nanas dapat digunakan sebagai berbagai produk seperti baju, tas, sepatu dan lainnya.

“Berdasarkan hasil penelitian juga daun nanas itu memiliki kualitas yang lebih bagus untuk jadi serat,” ujarnya. Humaeraq berharap ke depan ia sudah memiliki gudang produksi sendiri dengan berbagai alat pendukungnya. Pasalnya, saat ini ia hanya berproduksi di teras rumahnya dengan dibantu oleh orang tuanya. (den)