Menko Perekonomian: Provinsi NTB Terbaik Dalam Penyaluran Bantuan

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto memberikan bantua tunai bagi PKL dan pemilik warung di Taman Sangkareang, Mataram, Kamis (14/10). (Inside Lombok/Azmah)

Mataram (Inside Lombok) -Provinsi NTB disebut menjadi salah satu provinsi terbaik dalam penyaluran Bantuan Tunai Pedagang Kaki Lima dan Warung (BTPKLW). Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian), Airlangga Hartarto saat meninjau dan memberikan langsung BTPKLW kepada pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar Taman Sangkareang, Mataram.

Peninjauan langsung didampingi oleh Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita dan Gubernur NTB, Zulkieflimansyah, Kamis (14/10). Program BTPKLW sendiri sebelumnya diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 9 Oktober lalu.

“Saya sangat mengapresiasi pemberian BTPKLW di Provinsi NTB. Hal ini menjadikan NTB sebagai provinsi terbaik, karena dengan cepat melakukan penyaluran bantuan,” jelas Airlangga.

Sebanyak 8.482 paket bantuan BTPKLW disiapkan untuk NTB. Realisasinya melalui Kodim 1606 Mataram sebanyak 1.300 paket, dan melalui Kapolres Mataram 7.182 paket bantuan. Bantuan yang diberikan dalam bentuk uang tunai Rp1,2 juta. Di mana total bantuan yang sudah tersalurkan melalui Polres Mataram yaitu sebanyak Rp5,4 miliar.

Airlangga juga menuturkan program BTPKLW sebagai bentuk bantuan dari pemerintah kepada pedagang kaki lima dan warung yang pada saat PPKM tidak bisa berjualan. “BPTKLW tersebut diharapkan mampu membantu usaha para pedagang kaki lima dan pengusaha warung di sekitaran kota Mataram,” tuturnya.

Sementara itu, Sahban selaku PKL yang berjualan di sekitar Taman Sangkareang mengaku terbantu dengan bantuan tunai yang diberikan. Karena bantuan tersebut akan dijadikan modal untuk mengembangkan usaha yang saat ini sedang dijalankan.

“Saya sangat berterima kasih kepada pemerintah karena telah berupaya membantu kami untuk bertahan dan bisa berjualan kembali,” katanya. Selama pandemi, pendapatannya hanya Rp15 – 30 ribu per hari. Padahal sebelumnya, besaran omzet yang diperoleh pada hari-hari biasanya mencapai Rp300 ribu.

“Kami sangat berterimakasih kepada pemerintah, ini bisa jadi modal kami,” kata Sahnan yang sehari-hari berjualan Jus dan minuman ringan di taman kota tersebut.