Nasib Pengrajin Kayu Gaharu di Lotim Saat Pandemi

Para karyawan yang mengukir kayu gaharu untuk dijadikan pengharum ruangan, di Masbagik, Jumat (04/12/2020). (Inside Lombok/M.Deni Zarwandi).

Lombok Timur (Inside Lombok) – Mansyur, seorang pengrajin kayu gaharu asal Desa Danger, Kecamatan Masbagik, Lotim, kini mengalami masa-masa sulit selama mewabahnya Covid-19. Pasalnya pengiriman kerajinan kayu gaharu sebagai bahan pengharum ruangan, tidak banyak pesanan selama Pandemi.

Sebelum mewabahnya Pandemi ini, Mansyur mengatakan pesanan kayu gaharu sebagai bahan pengharum ruangan banyak diekspor ke Negara Timur Tengah. Kayu gaharu memang banyak diminati warga Timur Tengah sebagai pengharum ruangan.

“Dulu banyak yang pesan, omzet yang bisa kita dapat bisa mencapai miliaran,” ujarnya Kepada Inside Lombok, Jumat (04/12).

Namun, di masa Pandemi ini pesanan yang ia terima turun sampai 50 persen. Sehingga berdampak juga pada omzet yang ia raup.

“Sekarang kita sedikit dapat pesanan, semula kita kirim kerajinan ini sampai 1,5 ton,” katanya.

Kerajinan ini ia tekuni sejak ia pulang dari Kalimantan sebagai pencari kayu gaharu di hutan. Mulai sejak 2018 ia sudah banyak mendatangkan hasil dari kerajinan yang ia tekuni. Bahkan, ia banyak memberdayakan masyarakat setempat sebagai karyawannya.

“Kita tetap berdayakan masyarakat di sini sebagai tambahan penghasilan mereka, kerjanya cuma untuk mengukir kayu aja,” katanya.

Ia banyak memperoleh pesanan kayu tersebut dari wilayah Pulau Jawa, Bali dan Sumatera. Tak hanya itu, kerajinannya pun banyak dikirim ke luar negeri selain ke Timur Tengah.

Di massa Pandemi, untuk mendapat penghasilan tambahan, ia membuat kerajinan dari berbagai jenis kayu, mulai dari lampu hias, cangkir, papan nama, dan banyak lagi kerajinan lainnya.