PAD Lobar dari Kelautan dan Perikanan Baru Capai 40 Persen

74
IMG 20211026 WA0037
Kadis Kelautan dan Perikanan Lobar, Lalu Sukawadi, saat ditemui di ruang kerjanya. Selasa (26/10/2021). (Inside Lombok/Yudina Nujumul Qur’ani).

Lombok Barat (Inside Lombok) -Sumbangan pendapatan asli daerah (PAD) Lobar dari sektor perikanan dan kelautan masih jauh dari target. Padahal, besaran PAD dari sektor ini diestimasikan bisa mencapai Rp331 juta. Namun hingga akhir Oktober ini yang tercapai baru sekitar 40 persen.

“Sangat kurang sekali, karena yang kita harapkan dari potensi-potensi yang ada masih tidak sanggup untuk memberikan sumbangan” ungkap Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Lobar, Lalu Sukawadi saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Selasa (26/10/2021). “Memang sulit kita berhitung matematik di masa-masa sulit ini” tambahnya.

Dicontohkan seperti potensi dari hasil pengelolaan Balai Benih Ikan (BBI). Di mana untuk produksi penjualan larva maupun bibit ikan, diakuinya nyaris sudah tidak ada lagi pembeli. Padahal potensi BBI tersebut adalah salah satu yang paling diandalkan pihaknya.

Di sisi lain, pandemi Covid-19 diakuinya memperburuk keadaan. Sukawadi menyebut nyaris tidak ada lagi yang bisa diandalkan selama pandemi ini, selain dari pengelolaan BBI. Tetapi penggarapan potensi tersebut juga harus merugi dari pengeluaran pembelian pakan yang tidak sejalan dengan daya beli masyarakat.

“Jadi tidak bisa kita berharap dengan memelihara selama tiga bulan untuk kita jual. Ternyata kita kalah sama pakan dan rugi,” ungkapnya. Kondisi ini diakuinya bukan saja karena dampak pandemi. Melainkan juga sebagai dampak dari pergantian cuaca, sehingga masyarakat belum berani memulai memelihara dan membudidayakan benih ikan.

“Yang kedua juga, pembeliannya jadi sangat berkurang. Karena biasanya penjualan benih dan larva ini bagus saat musim hujan,” bebernya.

Bila benih dan larva dipaksakan untuk dilepas dalam pembudidayaan di musim panas seperti saat ini, maka benih disebutnya akan mudah mati. Sehingga banyak yang lebih memilih menunda memulai pembudidayaan.
“Yang lebih menguntungkan sebenarnya dari larva dan pembibitan, tapi cuaca sekarang orang belum banyak berani. Karena biasanya penjualan benih dan larva ini bagus saat musim hujan,” tuturnya.

Kendati demikian, kondisi saat ini diakui Sukawadi mulai pulih. Terlebih setelah mulai meratanya vaksinasi Covid-19 di wilayah Lobar, sehingga aktivitas nelayan dan masyarakat pun berangsur normal kembali.

“Jadi sebelumnya memang sudah vakum semua, tidak bisa bekerja dan beraktivitas. Tetapi sekarang sudah mulai kelihatan ada geliat,” pungkasnya.