Pemukiman Warga di Pesisir Semakin Dekat dengan Pantai, Pemkot Mataram Belum Punya Solusi Jangka Panjang

Salah satu rumah warga yang sangat dekat dengan bibir pantai di Lingkungan Mapak Indah, Kota Mataram (Inside Lombok/Azmah)

Mataram (Inside Lombok) – Jarak pemukiman warga di pesisir Kota Mataram dengan bibir pantai saat ini sudah semakin dekat. Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kota Mataram menyebut kondisi disebabkan karena abrasi pantai setiap tahun terjadi, khususnya di Lingkungan Mapak.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram, Mahfuddin Noor mengatakan panjang pantai Kota Mataram sekitar 9 kilometer. Beberapa lokasi pemukiman warga yang berada di kawasan pesisir rawan abrasi.

“Antisipasi dampak yang lebih buruk dari abrasi pantai atau gelombang pasang perlu dilakukan upaya-upaya mitigasi struktural,” katanya. Menurutnya, keterlibatan masyarakat sangat penting untuk mengantisipasi terjadinya bencana terutama abrasi.

Edukasi kepada masyarakat disebut tidak cukup sebagai langkah antisipasi. Pasalnya, masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir sudah memiliki pengalaman bagaimana cara mengantisipasi agar air laut tidak masuk ke tempat tinggal mereka.

“Mitigasi struktural ini harus dilakukan pembangunan yang bisa menahan itu. Seperti pemasangan tanggul, pemasangan jeti,” katanya, Jumat (2/12) pagi.

Selain itu, memberikan penyadaran kepada masyarakat agar tidak membangun di dekat bibir pantai. Sehingga pada saat membangun tempat tinggal ada perhitungan yang dilakukan agar tidak cepat terkena abrasi pantai.

“Kayak tahun lalu itu satu rumah jebol, dapur jebol dan lagi-lagi. Apakah keberadaan masyarakat kita di situ apakah sesuai dengan lokasi dia membangun,” ujarnya. Mahfuddin mengakui, lahan tempat membangun oleh warga saat ini merupakan milik sendiri. Namun dengan kondisi perubahan cuaca yang terjadi mengakibatkan abrasi sehingga pemukiman warga semakin dekat dengan pantai.

“Penanganan jangka panjang ya harus bangun tanggul. Tapi sekarang ini masyarakat menumpukkan material bekas hingga potongan kayu untuk menahan gelombang,” ungkapnya.

Antisipasi yang dilakukan masyarakat saat ini diakui tidak bisa bertahan lama. Di sisi lain, Pemerintah Kota Mataram belum bisa melakukan pencegahan jangka panjang. Sehingga kewaspadaan masyarakat selama hidrometeorologi harus semakin ditingkatkan.

“Ini kan kita prediksi sampai 31 Desember. Antisipasi itu saja dulu. Mana rumah-rumah yang berada di daerah yang sangat rawan evakuasi dulu barang-barang. Kalau terjadi pasang warga pindah dari situ,” pungkasnya. (azm)