Penanganan Sampah di Sungai Pitung Bangsit Perlu Jadi Perhatian

46
Pengerukan sampah yang menumpuk di aliran sungai Pitung Bangsit, Kediri Selatan. (Inside Lombok/Ist)

Lombok Barat (Inside Lombok) – Masih banyaknya warga yang membuang sampah sembarangan ke sungai dan saluran air di Kota Santri Kediri, Lombok Barat turut menjadi perhatian serius. Pasalnya, dalam sehari saja hampir ada satu ton sampah yang dibuang masyarakat dari hulu, yang kemudian terbawa arus sungai Pitung Bangsit, Kediri Selatan.

Pihak Desa setempat pun akan membentuk Kelompok Masyarakat Peduli Sungai (KMPS) untuk membantu mengatasi masalah persampahan itu. “Ini nanti sangat membantu BWS (Badan Wilayah Sungai) dalam mengelola sungai itu,” ujar Kades Kediri Selatan, Edi Erwinsyah, Rabu (10/08/2022).

Pihaknya juga meminta perhatian dari Pemda Lobar dan pihak BWS agar bisa memfasilitasi desa-desa yang dilintasi aliran Sungai Pitung Bangsit untuk dipasangkan jaring sampah. Harapannya, aliran sungai di kawasan itu menjadi lebih bersih dan indah.

Bila Sungai Pitung Bangsit itu bisa berhasil bersih dari sampah, pihaknya berencana akan menjadikannya sebagai lokasi pemancingan. Hingga kawasan pinggir sungai itu pun, rencananya akan dijadikan sebagai lokasi untuk lapak kuliner tradisional dan angkringan syar’i, bahkan berpotensi menjadi lokasi car free day.

Terlebih kata dia, selama ini, kawasan tersebut selalu ramai setiap akhir pekan. Sehingga upaya ini dinilai bisa untuk lebih menghidupkan kawasan itu.

“Kita sebenarnya merasa malu melihat sungai ini kotor dipenuhi sampah, sementara banyak tamu dari luar,” ketusnya.

Panjang sungai yang melintasi wilayahnya sekitar 800 meter, yang juga melintasi beberapa desa. Sehingga ia merasa sangat perlu agar masing-masing desa membuat semacam jaring sampah.

“Ini butuh upaya dari pemda dan kecamatan untuk mempertemukan kami, tiga desa ini. Desa Kediri Selatan, Kediri Induk dan Montong Are untuk buat jaring sampah di masing-masing desa,” harapnya.

Menurut dia, desa-desa yang berlokasi di daerah hulu juga berkontribusi terhadap sampah yang menumpuk di aliran sungai yang berlokasi desanya sebagai daerah hulu. “Ini (pemasangan jaring di tiap perbatasan desa, Red) salah upaya untuk menangani sampah di sungai,” tegasnya.

Edi menilai, dengan dipasangnya jaring sampah, maka terlihat nanti sampah yang dibuang oleh masing-masing desa. Kemudian pihak desa setempat lah yang harus menangani sampah itu. Sehingga tidak ada sampah yang terbawa arus sungai ke kawasan hulu.

“Itu setiap hari, satu hari, hampir satu ton sampah yang dibuang ke sungai,” herannya.

Sampah-sampah yang mengendap dan menumpuk di daerahnya pun diangkut oleh petugas sampah yang digaji oleh desa. Mereka mengangkut sampah menggunakan kendaraan roda tiga yang pengadaannya pun disebutkan, bersumber dari dana desa (DD).

“Sejauh ini kan pengelolaan sampah masih mengandalkan DD. Petugas sampah ada enam orang, dan operasional kendaraan roda tiga untuk mengangkut sampah pun dari desa,” tandasnya. (yud)