Penjual dan Pembeli Hewan Ternak Sayangkan Penutupan Pasar Selagalas

100
Proses transaksi ternak di Pasar Hewan Selagalas (Inside Lombok/Azmah)

Mataram (Inside Lombok) – Pemerintah Kota Mataram akan menutup Pasar Hewan Selagalas mulai Kamis (19/5) pekan ini. Kebijakan penutupan pasar hewan dinilai akan berdampak pada pendapatan para pedagang yang menggantungkan hidupnya di pasar tersebut.

Salah seorang pembeli sapi di Pasar Hewan Selagalas Mataram, Mas’ud, Selasa (17/5) di Mataram mengatakan selama menggeluti usaha jual–beli hewan ternak di Pasar Selagalas Mataram pendapatan yang diperoleh tidak menentu. Namun dengan adanya kebijakan penutupan tersebut, maka dipastikan dirinya tidak bisa lagi melakukan transaksi di pasar tersebut.

“Biasanya kita jual beli di sini. Pendapatan nggak tentu. Sekarang kita mau beli sapi ini,” katanya.

Sementara terkait dengan rencana penutupan Pasar Hewan Selagalas, Mas’ud mengatakan tidak bisa berbuat banyak. Pasalnya, penutupan tersebut merupakan kewenangan pemerintah sebagai antisipasi penularan penyakit mulut dan kuku (PMK) pada sapi.

“Kebijakan tersebut mau bilang apa ini sudah ketetapan pemerintah. Kita ngikut saja apa kata pemerintah,” ujar pembeli asal Sekarbela tersebut.

Sama halnya dengan Sahri, salah seorang pedagang kambing yang khawatir dengan dampak penutupan Pasar Hewan Selagalas. Selama ini, Pasar Hewan Selagalas adalah satu-satunya tempat ia mengadu nasib.

“Kan kita bingung juga. Mau bilang apa ini program pemerintah mungkin kan. Jadi kita nggak bisa berkutik ini. Saya kan rutin di sini. Sekarang kita tahu pasar ditutup. Harapan jangan ditutup. Ini sumber utama,” katanya.

Dengan adanya penutupan pasar hewan tersebut, Sahri mengaku tidak tahu lagi harus menjual hewan ternaknya di mana. Karena pada masa pandemi Covid-19 dianggap sangat menyulitkan para peternak. Apalagi saat ini, Pemda akan menutup pasar sebagai lokasi transaksi jual–beli.

“Tiap Selasa dan Kamis. Sekarang pendapatan itu Rp50-100 ribu kan lumayan juga. Kalau dulu sampai Rp500 ribu kita dapat sekali transaksi. Kalau pas pandemi mati total kayaknya. Makin sulit sekarang ini, dan makin dipersulit. Kita mau bilang apa,” ucapnya.

Diakuinya, sebagai masyarakat yang awam dengan penyakit seperti PMK, ia mengharapkan pemerintah melakukan pemeriksaan secara rutin pada ternak-ternak masyarakat. Sehingga penutupan pasar menjadi pilihan terakhir untuk mengantisipasi penularan penyakit pada hewan.

“Kita nggak ngerti penyakit ini. untuk mengatasi mungkin pemerintah saja yang tahu. Rutin pemeriksaan hewan, mungkin seperti itu,” pungkasnya. (azm)