Perayaan Lebaran Topat Ditiadakan, PKL di Makam Batulayar Gigit Jari

408

Lombok Barat (Inside Lombok) – Makam Batulayar menjadi salah satu situs yang biasanya dijadikan lokasi perayaan tradisi Lebaran Topat di Lombok Barat. Namun perayaan Lebaran Topat tahun ini ditiadakan oleh pemda. Ini berdampak pada pendapatan Pedagang Kreatif Lapangan (PKL) yang ada di sana.

Pemda Lobar dengan tegas melarang perayaan dalam tradisi Lebaran Topat yang biasa dilakukan oleh masyarakat Lombok Barat. Termasuk berziarah ke Makam Batulayar hingga plesiran di Pantai Duduk.

Bahkan pada H-1 Lebaran Topat, pantauan wartawan saat berkunjung ke salah satu makam yang dikeramatkan di Lombok Barat itu, situasinya sangat sepi. Hingga penunggu makam yang biasanya berjaga di sana pun tidak dapat ditemui di lokasi.

“Gara-gara covid-19 ini, sudah dua tahun tiap Lebaran Topat dan Lebaran Idul Fitri makam ndak pernah dibuka” kata Rohani, seorang PKL yang berjualan di depan pintu makam, Rabu (19/05/2021).

Ia menuturkan bahwa keluarganya sudah berjualan selama belasan tahun di sana. Namun semenjak pandemi, keuntungan mereka bahkan tidak sampai 50 persen. Bahkan dengan adanya penyekatan yang menyebabkan wisatawan dilarang memasuki kawasan itu.

Kata dia, untuk hari itu saja hanya ada beberapa orang yang merupakan warga asli Batulayar sendiri yang berziarah ke makam tersebut. Sehingga ia pun tetap semangat untuk berjualan kembang yang biasanya dicari oleh pengunjung yang akan berziarah.

“Kalau sekarang keuntungan jualan sekarang itu ndak sampai 50 persen. Ndak kayak dulu lumayan” akunya.

Padahal sebelumnya, momentum Lebaran ini biasanya dimanfaatkan untuk mengais keuntungan yang besar. Bahkan perharinya, Rohani menyebut, ia bisa mengais keuntungan hingga Rp 2 sampai Rp 3 juta. Namun, dalam kondisi saat ini, dirinya mengaku kesulitan untuk bisa memperoleh keuntungan walau hanya Rp 500 ribu.

“Tapi sekarang Rp 500 ribu kalau dapat segitu” ungkapnya dengan nada pasrah.

Saat ini, yang menjadi harapan bagi para pedagang yang ada di kawasan itu, termasuk Rohani, hanyalah para pengendara yang merupakan masyarakat asli Batulayar yang kebetulan melintas di sana.

“Kalau sedih ya sedih, namanya kita jualan untuk cari makan. Kita berharap supaya pemerintah bisa kasih lewat ke masyarakat luar asalkan pakai protokol lengkap. Supaya kita ndak tambah rugi,” harap Rohani.