Soal Penyaluran Minyak Goreng Subsidi, RPK Minta Dilibatkan

57
Salah seorang pembeli memilih beberapa minyak goreng di retail modern. (Inside Lombok/Devi)

Mataram (Inside Lombok) – Minyak goreng subsidi yang mulai disalurkan ritel-ritel dengan harga Rp14 ribu per liternya banyak diserbu masyakat. Kendati demikian, Rumah Pangan Kita (RPK) Bulog meminta dilibatkan dalam penyaluran tersebut.

Sesuai Inpres 48/2016 pasal 2 ayat 4, Bulog memang diberikan kewenangan untuk menjaga stabilitas pangan, khususnya minyak goreng, gula dan beras. “Artinya bila bukan Bolog yang melaksanakan, pasti dianggap bahwa Inpres tersebut tidak teraktualisasi,” kata Pimpinan wilayah Perum Bulog NTB, Abdul Muis S. Ali, Jumat (21/1).

Pihaknya yakin pendistribusian minyak goreng subsidi melalui Bulog bisa lebih luas cakupannya, mengingat Bulog memfasilitasi masyarakat dan tersebar di seluruh Indonesia. Kendati demikian, belum adanya putusan untuk Bulog melakukan pengadaan minyak goreng untuk menjaga stok dalam negeri menjadi tantangan tersendiri.

“Justru kalau bukan Bulog (yang menyalurkan) menyalahkan Inpres tersebut menjadi persoalan, karena dalam Inpres itu bulog yang ditunjuk. Bukan swasta maupun BUMN lain,” ungkapnya.

Untuk itu pihaknya menunggu keputusan Kemeneterian Perdagangan untuk menugaskan Bulog supayasegera menyediakan minyak goreng murah. Terlebih Bulog punya sarana dan prasana seperti jaringan, SDM, marketing, dan downline.

“Downline salah satunya RPK, showroom pangan dan kios-kios yang bergerak di sini. Karena dia sudah menyasar ke desa, RT/RW, termasuk pasar tradisional,” tuturnya. Sampai saat ini pihaknya masih menunggu penyaluran minyak goreng murah dari Bulog.

Menurut informasi yang diterima pihaknya, Bulog sudah mendapat penunggasan untuk mengadaan 10 juta liter minyak goreng subsidi. Kendati demikian, dalam pelaksanaannya pihak swasta justru mengelola penyaluran minyak goreng subsidi tersebut.

“Tidak ada kejesalan apakah Bulog ditugaskan atau pihak swasta. 10 juta liter ini masih menunggu,” katanya.

Sebelum adanya subsidi, Bulog NTB sebelumnya sudah menjual minyak goreng dengan harga murah yaitu Rp15 ribu per liter. Sedangkan di pasar minyak goreng dijual Rp20 ribu per liter saat itu.

“Stok yang ada 1.000 liter masih tersisa, dan itu mungkin hari ini sudah habis dibeli karena harganya murah,” jelasnya.

Sebagai informasi, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyatakan minyak goreng Rp14 ribu sudah dijual serentak di seluruh ritel modern yang menjadi anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). Termasuk Aprindo NTB yang mulai Rabu (19/1) lalu melakukan penyaluran. Rencananya program berlangsung hingga 6 bulan ke depan. (dpi)