Terdampak Banjir Bandang, Warga Perumahan Bhayangkara Residence Minta Pertanggungjawaban Pengembang

Kondisi salah satu rumah yang terdampak banjir bandang di perumahan Bhayangkara Residence, desa Ranjok, kecamatan Batulayar. Senin (06/12/2021). (Inside Lombok/Yudina Nujumul Qur’ani).

Lombok Barat (Inside Lombok) – Sebanyak 219 Kepala Keluarga (KK) terdampak banjir yang menerjang perumahan Bhayangkara Residence, Desa Ranjok, Kecamatan Gunungsari pada Senin (6/12). Warga kompleks perumahan itu pun menuntut pertanggungjawaban dari pihak pengembang perumahan.

Warga perumahan tersebut tak pernah menyangka hujan deras yang turun sejak Minggu (5/12) pagi akan menimbulkan suasana mencekam bagi mereka. Pasalnya, perumahan tersebut memang sempat terendam banjir dua tahun yang lalu. Namun tidak separah kali ini.

Kurang dari satu jam saat air mulai menggenang, volume air nyaris menutupi seluruh atap yang ada di blok P, Q, R, S di perumahan tersebut. Bahkan, salah satu warga yang sedang hamil terpaksa menyelamatkan diri dengan naik ke atas atap sambil menggendong anaknya untuk menunggu evakuasi.

Lisa, seorang ibu yang tinggal di blok R Bhayangkara Residence mengaku awalnya tidak menyangka air akan meluap cepat hingga setinggi dada orang dewasa. Ia dan anak-anaknya yang masih berusia 7 dan 4 tahun segera berusaha menyelamatkan diri ke masjid yang lokasinya jauh lebih tinggi dari rumahnya.

“Habis salat subuh itu, saya tengok airnya dari dalam rumah memang masih aman. Hanya genangan biasa, karena hujan dari semalam cukup deras. Terus pas habis salat, cepat sekali naik airnya, langsung keliatan di jalan itu, cuma memang belum sih sampai rumah,” tuturnya saat ditemui di posko pengungsian, Senin (06/12/2021).

Awalnya ia berniat menutup gerbang rumahnya agar air tidak sampai masuk ke dalam rumah, sembari membereskan barang-barang untuk mengantisipasi tergenang air. Hal itu dilakukannya karena mengantisipasi banjir yang terjadi dua tahun lalu.

“Saat itu suami saya masih keliling-keliling memantau situasi. Tapi karena air sudah masuk ke rumah, anak saya nangis karena panik,” kata dia. Saat hendak meninggalkan rumah untuk mengungsi, barang-barang elektronik seperti kulkas dan mesin cuci miliknya hanyut terbawa air.

“Yang penting anak-anak saya sudah di lokasi yang aman, itu yang paling penting di pikiran saya,” ucapnya haru.

Menurutnya, banjir kali ini adalah yang terparah sejak dirinya bersama keluarga menetap di perumahan tersebut. Di mana pada banjir 2019 lalu, pemerintah desa memberikan atensi dengan memperbaiki tanggul sungai setempat yang sering meluap.

Menyikapi kondisi saat ini, warga disebutnya sangat berharap pengembang perumahan tersebut dapat memberi solusi jangka panjang untuk persoalan tersebut. “Karena ini sudah kedua kalinya dan paling parah. Takutnya setahun, dua tahun lagi bakal lebih parah dari ini. Kayaknya kita sudah enggal bakal mau tinggal di sini lagi,” ungkapnya.

“Karena capek kita, belum bersih-bersih tiap hujan, belum perabotan kita yang rusak. Kerugian kita kan gak sedikit, jadi kita berharap ada ganti rugi atas materi kita yang terdampak,” harap Lisa.

Tak tanggung-tanggung, kekhawatiran yang mereka rasakan mendorong keinginan supaya mereka bisa dipindahkan dari lokasi perumahan mereka saat ini. “Kalau bisa rumah kita dipindahkan, enggak apa-apa cicilannya disamakan dengan yang sekarang. Asal lokasinya dipindah, karena kalaupun kita keluar pindah dari sini dan ini kita jual, ini gak akan laku,” ketusnya.

Ketua RT setempat, Joeni Satriawan memaparkan sekitar 219 warganya terdampak banjir dan harus mengungsi. Bahkan ada ibu hamil hingga bayi dan balita yang membutuhkan pakaian, lantaran sebagian besar harta benda mereka terendam dan hanyut.

“Sekitar jam 07.15 Wita airnya semata kaki, tidak butuh waktu lama itu jembatan jebol. Dan air dari kali mulai memasuki rumah warga,” bebernya. Kendati demikian, pihaknya bersyukur seluruh warga berhasil dievakuasi dan tidak ada korban jiwa.

Pihaknya mencatat beberapa warga mengalami luka. Sementara untuk data terkini, ia mengaku pihaknya masih melakukan pembaharuan. “Karena tadi ada beberapa warga yang tidak mau dievakuasi karena harus menyelamatkan barang-barangnya,” imbuh dia.

Saat ini korban banjir di Bhayangkara Residence sudah menerima bantuan logistik berupa matras, selimut, makanan bayi, obat-obatan hingga makanan cepat saji dan dapur umum. “Harapan kami sebagai warga, semoga dari pihak pengembang ada tindak lanjut untuk membantu kami atas musibah ini,” ujarnya.

Sebelumnya, Joeni mengaku telah meminta bantuan dari pihak pengembang. Namun hingga saat ini belum ada tindak lanjut atas hal itu. Sementara warga justru sudah trauma untuk tinggal di kawasan itu, terlebih saat mulai musim hujan.

“Harapan kami agar pihak pengembang bisa membantu kami, maupun pemerintah bisa memediasi kami dengan pihak pengembang,” ujar Joeni. (yud)