Usaha Ritel NTB Diproyeksi Pulih Tahun Depan

46
Ketua Aprindo NTB, Abdul Aziz Bagis. (Inside Lombok/Devi)

Mataram (Inside Lombok) – Seiring dengan pemulihan ekonomi di NTB tumbuh positif menjadi angin segar bagi industri perdagangan dan ritel. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) NTB memproyeksi pertumbuhan bisnis ritel di NTB awal 2022 membaik.

Ketua Aprindo NTB, Abdul Aziz Bagis menerangkan pertumbuhan industri ritel akan berkorelasi positif terhadap kemajuan ekonomi makro. Di mana ekonomi NTB sekarang sudah tumbuh positif, maka industri ritel akan tumbuh positif. Begitu juga sebaliknya, ketika ekonomi makro tumbuh negatif tentu ritel akan tertekan.

“Saya harapkan pertumbuhan industri di NTB ini selaras dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. Umpanya tumbuh 5 persen maka ritel diharapkan tumbuh sebesar itu,” tutur Abdul, Senin (27/12).

Secara umum industri ritel akan mengikuti kemajuan ekonomi makro. Karena berada di hilir pertumbuhan ekonomi, sedangkan di hulu merupakan stimulan-stimulan seperti pada perhelatan MotoGP mendatang tentu akan memberikan multiplier effect atau efek ganda membuat ekonomi NTB sedikit bergairah. Hal tersebut akan dirasakan di hilir yaitu industri ritel yang menggairahkan.

“Seiring pemulihan ekonomi maka industri ritel akan pulih dengan asumsi stimulan-stimulan yang terjadi melalui MotoGP betul-betul dirasakan oleh pelaku usaha NTB,” katanya.

Dikatakan, event-event digelar baik di NTB maupun secara nasional bisa menjadi pemicu ekonomi makro. Apalagi dalam waktu dekat aka nada formula 1, itu juga bisa menjadi pemicu dan bisa berdampak sampai ke daerah.

“Kalau memang nantinya itu bisa digelar bisa berdampak luas termasuk ke daerah. Karena multiplier effect bisa kemana-mana,” ujarnya.

Kondisi bisnis ritel pada tahun ini sejatinya sudah lebih baik ketimbang tahun lalu. Namun, level pertumbuhan belum begitu signifikan dibandingkan sebelum pandemi. Saat ini bisnis ritel masih berada pada tahap pra-recovery. Pemulihan bisnis ritel beriringan dengan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, pergerakan bisnis ritel juga bergantung pada percepatan program vaksinasi, penanggulangan kasus covid-19, hingga pengetatan mobilitas masyarakat.

“Saya optimis di akhir kuartal 2021 sampai dengan kuartal 1 2022 ini akan mengalami peningkatan sehubungan dengan makin melandai covid dan adanya event ini,” jelasnya. (dpi)