Warga Batujai Sulap Tanaman Eceng Gondok Jadi Bernilai Ekonomis

537
Sejumlah warga di Desa Batu Jai saat membuat anyaman limbah eceng gondok (Inside Lombok/Ist)

Lombok Tengah (Inside Lombok) – Warga di Desa Batujai, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah (Loteng) menyulap tanaman eceng gondok jadi anyaman sandal yang bernilai ekonomis.

Pembina kerajinan eceng gondok Desa Batujai, Abdul Sahid menjelaskan tingginya angka pengangguran di Desa Batujai, terutama bagi para lansia dan ibu rumah tangga membuat ia menggagas pemberdayaan warga dan memberikan pemahaman bahwa desanya memiliki potensi yang luar biasa. Khususnya dari tanaman eceng gondok yang hidup liar di Bendungan Batujai.

“Batujai ini terdiri dari 19 dusun, dan dari sana ingin kami berdayakan untuk mengurangi angka pengangguran,” ungkap Sahid, Jumat (12/8/2022).

Tidak hanya alasan itu, ia juga terinspirasi dari program Zero Waste yang digagas oleh Pemprov NTB. “Karena Program Zero Waste itu, makanya kami upayakan menggunakan limbah dari eceng gondok yang ada,” ujarnya.

Sahid menuturkan, dari hasil anyaman tersebut saat ini, pihaknya sudah mendapatkan pesanan dari salah satu hotel di wilayah Senggigi. Namun dengan keterbatasan hasil produksi dan alat sehingga pihaknya belum menyanggupi tawaran tersebut.

“Sekarang sudah ada permintaan dari salah satu hotel di Senggigi. Mereka minta 160 pasang sandal sehari tapi produksi kita yang masih kurang, karena keterbatasan peralatan,” tuturnya.

Dikatakan, proses pembuatan kerajinan tersebut dari masih menggunakan cara manual. Sehingga berpengaruh terhadap hasil produksi yang masih minim.

“Karena proses pengeringan ini yang butuh proses lama, kalau ada pengering mungkin kami bisa lebih cepat,” tuturnya.

Untuk mempermudah produksinya ia peralatan yang dibutuhkan saat ini, seperti oven pengering, alat pres, dan mesin jahit, ia pun berharap ada campur tangan dari pemerintah dan dapat membina agar mampu meningkatkan produksi.

“Belum ada komunikasi dari pemerintah daerah, nanti kita minta anggaran di desa supaya pengeraji lebih banyak,” ujarnya. Untuk dapat memiliki hasil karya dari para pengrajin cukup merogoh kocek Rp10-15 ribu saja. Sampai saat ini pengrajin hanya mampu menghasilkan 25 pasang sandal per harinya. (fhr)