Warga Senggigi Keberatan Terhadap Aksi Demo Atas Nama Pariwisata

Aksi demo menolak kedatangan Rocky Gerung, Neno Warisman, serta Haikal Hassan oleh sekelompok orang di salah satu hotel di kawasan Senggigi, Selasa (05/03/2019) (Inside Lombok/Istimewa)

Lombok Barat (Inside Lombok) – Aksi demo menolak kedatangan tokoh nasional Neno Warisman dan Rocky Gerung kembali terjadi, Rabu (07/03/2019). Sebelumnya, sekelompok orang melakukan demonstrasi tepat di depan salah satu hotel di Senggigi yang akan dijadikan lokasi Talkshow oleh Rocky Gerung dan Haikal Hassan pada 9 Maret 2019 mendatang.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Karang Taruna Desa Senggigi, Mastur, menerangkan bahwa masyarakat Desa Senggigi keberatan kelompok tersebut mengatasnamakan pelarangan tersebut untuk membela masyarakat di Senggigi.

“Tidak jelas itu forum apa. Tiba-tiba datang, tanpa izin atau apa. Tiba-tiba demo di depan hotel. Itu yang kita keberatan. Karena di desa senggigi tidak boleh ada demo di daerah pariwisata. Masyarakat di sini keberatan,” ujar Mastur kepada Inside Lombok, Rabu (06/03/2019) melalui sambungan telepon.

Selain itu, Mastur menerangkan bahwa beredar pula surat yang mengatasnamakan Koperasi Jasa Wisata Senggigi (Kotasi) yang menyatakan menolak kedatangan mereka karena memungkinkan timbulnya perpecahan di dalam umat islam.

Surat tersebut ditantangani oleh Ketua Kotasi, Nasrun, dan seorang tokoh masyarakat dengan nama H. Mardan yang telah dipalsukan tanda-tangannya. Hal tersebut disebut mastur sangat mengada-ada.

“Dia mengatasnamakan agama. Apa urusannya Koperasi wisata dengan itu. Dia mengatasnamakan warga, itu juga yang kita keberatan. Sedangkan warga Senggigi welcome (terbuka, red.) saja kepada siapapun yang datang,” ujar Mastur.

Pihak Karang Taruna desa Senggigi sendiri telah meminta dilakukan mediasi oleh pihak kepolisian Polsek Senggigi untuk mempertemukan koordinator aksi demo, penyelenggara acara talkshow yang menghadirkan ketiga tokoh nasional tersebut, serta perangkat desa Senggigi. Hal tersebut untuk memastikan tidak terulangnya hal serupa.

“Kita ingin mediasi supaya hal semacam ini tidak terulang lagi,” ujar Mastur.

Sebelumnya pihak Karang Taruna, Penyelenggara acara, serta perwakilan Kotasi sendiri telah mengadakan pertemuan membahas hal tersebut.

Mastur meyebutkan, dalam pertemuan tersebut pihak kotasi menerangkan bahwa terbitnya surat penolakan tersebut karena pihak Kotasi didatangi lima orang tidak dikenal yang memberitahu mereka bahwa pada acara talkshow tersebut akan terjadi bentrok oleh 700 orang simpatisan capres yang akan bertarung di Pilpres 2019.

“Mereka tidak tahu siapa yang memberi informasi itu. Katanya akan ada bentrok,” ujar Mastur.

Talkshow dengan tema Eksistensi Melahirkan Perubahan tersebut sendiri merupakan prakarsa dari Rumah Aspirasi Garuda Emas NTB. Sebelumnya, aksi serupa juga dilakukan oleh kelompok yang mengatasnamakan diri mereka Aliansi Masyarakat Peduli Pariwisata di depan Kantor Dinas Pariwisata NTB, Selasa (05/03/2019). Beberapa pihak yang melakukan aksi tersebut menilai kedatangan ketiga tokoh nasional tersebut akan menimbulkan perpecahan dan keributan di Lombok, khususnya daerah Senggigi sebagai lokasi acara.