Mataram (Inside Lombok) – Belum lama ini Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump memberlakukan tarif impor dengan nilai yang cukup, yakni mencapai 32 persen terhadap produk-produk dari Indonesia. Meski demikian, untuk pengiriman vanili organik Lombok ke AS masih dilakukan.
Sebagaimana diketahui, permintaan akan vanili organik ke Negeri Paman Sam memang cukup tinggi. Karenanya, meski ada penangguhan kenaikan tarif resiprokal selama 90 hari untuk puluhan negara, kebijakan baru pemerintah AS itu cukup disayangkan oleh sejumlah pembeli.
“Kami sudah menjalin komunikasi dengan para pembeli di AS, setelah diberlakukan kebijakan itu. Semua buyer rempah-rempah di sana sangat kecewa dengan kebijakan ini,” ujar salah satu eksportir vanili organik sekaligus pemilik UD. Rempah Organik Lombok, Mohir, Jumat (11/4).
Dikatakan, vanili organik ini tidak bisa diproduksi sendiri oleh mereka, sehingga ketergantungan terhadap pasokan dari luar sangat tinggi. Lain hal dengan produk seperti alat elektronik dan komponen lainnya yang bisa diproduksi sendiri di AS. Sementara untuk vanili, AS masih sangat mengandalkan impor. “Saat ini memang belum ada pengiriman karena belum masuk masa panen,” ucapnya.
Saat ini kebijakan tarif masih ditangguhkan dan tidak menutup kemungkinan akan tetap sama seperti di awal. Tetapi pembeli di Amerika masih menunjukkan minat yang tinggi terhadap vanili organik dari Lombok. Bahkan, mereka tetap bersedia menyerap seluruh hasil produksi yang ada. Terlebih sudah ada kontrak antara eksportir dengan para pembeli, sehingga berapapun jumlah vanili organik akan siap ditampung.
“Cuma produksi tahun ini turun sekitar 30 persen karena curah hujan yang cukup tinggi sejak awal tahun. Perkiraannya sekitar sekitar 4–5 ton bisa dipenuhi dari permintaan pasar,” ungkapnya.
Sebagai informasi, pada awal tahun ini Mohir sempat mengirimkan 150 kilogram vanili ke AS sebelum tarif tinggi diberlakukan. Sementara itu, harga vanili organik di tingkat petani Lombok masih relatif stabil meski tarif impor meningkat. Diakui margin keuntungan eksportir menjadi lebih kecil akibat kebijakan ini, meski demikian pihaknya tetap bertahan sembari menjajaki pasar di negara lain. “Untuk pasar selain Amerika belum menunjukkan keseriusan, tapi kita usahakan bisa menyasar ke pasar lainnya,” imbuhnya. (dpi)

