Lombok Tengah (Inside Lombok) – Kebakaran hebat melanda bangunan Pondok Pesantren Safinatunnajah yang berlokasi di Dusun Perentek, Desa Pengadang, Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), Senin (23/3/2026) sekitar pukul 12.00 Wita. Peristiwa tersebut diduga dipicu oleh korsleting arus listrik.
Berdasarkan laporan sementara Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (PUSDALOPS PB) BPBD Loteng, kebakaran menghanguskan 20 lokal asrama putra. Meski kerugian material diperkirakan cukup besar, tidak ada korban jiwa, luka, maupun korban yang hilang dalam kejadian ini.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkartan) Loteng, Suparman, melalui Regu 2 Pos Praya langsung bergerak cepat setelah menerima laporan dari masyarakat. Tim segera menyiapkan peralatan dan personel, lalu menuju lokasi kejadian.
Petugas tiba sekitar pukul 12.30 Wita dan langsung melakukan upaya pemadaman menggunakan satu unit mobil pemadam kebakaran, dengan dukungan suplai air dari Pos Mujur dan Pos Jonggat.
“Proses pemadaman hingga pendinginan berlangsung dalam kondisi aman dan terkendali, hingga api berhasil dipadamkan sepenuhnya,” jelas Suparman dalam keterangannya.
Dijelaskan, dalam operasi tersebut melibatkan delapan personel yang dipimpin oleh Komandan Regu 2 Pos Praya. Setelah memastikan situasi benar-benar aman, tim kembali ke markas dan tiba di kantor Damkartan sekitar pukul 13.45 Wita.
Selain itu, BPBD Loteng bersama instansi terkait, termasuk perwakilan Deputi Kedaruratan BNPB, turut turun ke lokasi untuk melakukan asesmen dampak serta memastikan kondisi di lapangan tetap kondusif.
Upaya penanganan tidak hanya difokuskan pada pemadaman, tetapi juga mencakup pelaporan, penyebaran informasi, serta pemberian imbauan kepada masyarakat agar lebih waspada terhadap penggunaan instalasi listrik.
Akibat kejadian tersebut, kebutuhan mendesak bagi para terdampak meliputi terpal, selimut, tikar, matras, serta makanan siap saji untuk memenuhi kebutuhan dasar sementara.
Sementara itu, Kasi Humas Polres Loteng, IPTU Lalu Brata Kusnadi, mengungkapkan kronologi kejadian tersebut, sekitar pukul 11.00 wita, ketika saksi 2 melewati bangunan asrama Santri Putra, saksi 2 tiba tiba melihat kepulan asap keluar dari salah satu kamar asrama tersebut, spontan saksi berteriak minta tolong, namun karena area sekitar Ponpes dalam keadaan sepi karena saat ini para santri sedang libur.
“Pemadaman api yang semakin membesar dilakukan oleh warga sekitar komplek Ponpes dengan alat seadanya, api dengan cepat membakar bahan bangunan semi permanen yang sebagian besar terbuat dari bahan mudah terbakar seperti bambu bedek,” katanya.
Peristiwa tersebut disebabkan oleh korsleting arus pendek listrik, hal tersebut diperkuat dengan adanya beberapa kabel listrik yang tidak standar terbakar di lokasi kejadian. “Namun barang barang juga ikut terbakar seperti, buku,kitab, ijazah, lemari, kasur dan pakaian milik santri, sehingga kerugian material ditaksir sekitar Rp50 juta,” tandasnya.

