Lombok Timur (Inside Lombok) – Bulayak, makanan khas Suku Sasak, menjadi hidangan utama warga Desa Aik Dewa, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur, pada momen Lebaran, baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun, di mana warga memilih membuat Bulayak sebagai pengganti ketupat yang umum dijumpai di daerah lain.
Bulayak merupakan olahan berbahan dasar beras yang dibungkus daun aren muda, kemudian dimasak hingga menyerupai lontong. Berbeda dengan ketupat yang menggunakan daun kelapa atau pisang, penggunaan daun aren menjadi ciri khas tersendiri dari makanan tradisional ini.
Warga setempat mulai mempersiapkan pembuatan Bulayak sejak beberapa hari sebelum Lebaran. “Ini sudah menjadi salah satu tradisi yang terus diwariskan ke setiap generasi. Ketika H-1 lebaran, biasanya semua warga mulai menyalakan tungku di depan rumahnya ketika sahur terakhir di bulan Ramadan,” ungkap Eli warga Aik Dewa, Sabtu (21/03).
Menurut Eli, lima hari menjelang Lebaran, warga biasanya telah berkumpul di pinggir jalan untuk menunggu pedagang daun aren muda sebagai bahan utama. “Kita di sini tak ada yang buat ketupat, tapi semua warga membuat Bulayak pada H-2 dan di masak pada waktu sahur H-1. Bahkan sekarang makin susah kita dapat daun aren karna banyaknya warga yang mencari,” jelasnya.
Hal serupa disampaikan Siti yang setiap Lebaran menyiapkan hingga 500 Bulayak untuk keluarga dan tamu. “Kita selalu buat banyak karena keluarga yang dari luar daerah selalu minta untuk dibuatkan Bulayak, itu juga yang mereka bawa pulang dan dibagikan ke tetangganya,” paparnya.
Meski di tengah perkembangan makanan modern, Bulayak tetap dipertahankan sebagai bagian dari tradisi masyarakat Aik Dewa. Hingga kini, makanan tersebut masih menjadi pilihan utama warga sebagai simbol kuliner khas dalam perayaan Lebaran.

