BerandaLombok TimurKasus Gigitan Anjing Liar Meningkat di Lotim, Pemda Siapkan Pengendalian Populasi

Kasus Gigitan Anjing Liar Meningkat di Lotim, Pemda Siapkan Pengendalian Populasi

Lombok Timur (Inside Lombok) – Kasus gigitan anjing liar terhadap warga, terutama anak-anak, kembali terjadi di Kecamatan Sakra Timur, Lombok Timur (Lotim), setelah sebelumnya dilaporkan di Kecamatan Sikur. Pemerintah daerah (Pemda) segera mengambil langkah penanganan menyusul meningkatnya agresivitas anjing yang diduga dipicu musim kawin.

Kabid Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lotim, Hultatang, mengatakan peningkatan agresivitas terjadi pada periode musim kawin April, Mei, Juni, dan kembali pada Oktober.

“Pada musim ini, anjing cenderung berkelompok dan menjadi lebih agresif. Selain faktor hormonal, kondisi lapar dan adanya rangsangan dari lingkungan seperti ternak juga bisa memicu serangan,” ujarnya, Selasa (21/04/2026).

Ia menyebut mayoritas kasus gigitan melibatkan anjing liar tanpa pemilik dengan persentase mencapai 90 hingga 98 persen di beberapa wilayah. “Hampir 90 hingga 98 persen anjing di beberapa wilayah itu tidak berpemilik. Mereka hidup di sawah, kebun, tempat sampah, bahkan gorong-gorong,” jelasnya.

Keterbatasan pakan turut memperparah situasi. “Kalau sumber makanan terbatas, anjing akan lebih sensitif dan mudah menyerang,” tambah Hultatang.

Dalam penanganan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan telah mengerahkan dokter hewan dan paramedis untuk memantau anjing yang diduga menggigit guna memastikan indikasi rabies.

“Jika anjing terinfeksi rabies, biasanya dalam waktu sekitar tujuh hari akan menunjukkan gejala seperti kelemahan hingga kematian. Namun untuk memastikan, tetap harus melalui pemeriksaan laboratorium,” terangnya.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lotim, Masyhur, menyatakan pemerintah menyiapkan langkah pengendalian populasi sebagai solusi jangka panjang. “Pada dasarnya kami ingin segera melakukan eliminasi atau pengendalian populasi, tetapi saat ini terkendala ketersediaan racun yang tidak diperjualbelikan secara bebas. Kami sedang berupaya mencari bahkan meminjam dari daerah lain,” kata Masyhur, Selasa (21/4).

Ia menegaskan, pengendalian dilakukan secara terukur dengan tetap memperhatikan perlindungan hewan serta melibatkan masyarakat dan aparat penegak hukum. “Kami tidak bisa bekerja sendiri. Perlu dukungan masyarakat dan koordinasi dengan kepolisian karena ini juga berkaitan dengan aturan perlindungan hewan,” ujarnya.

Pemda juga berencana meningkatkan fasilitas laboratorium dan sistem deteksi dini penyakit hewan. Dugaan rabies masih dalam tahap pemantauan. “Dokter hewan sudah turun melakukan pemeriksaan. Mudah-mudahan hasilnya negatif,” katanya. Masyarakat diimbau tetap waspada, menghindari kontak dengan anjing liar, dan segera melapor jika terjadi gigitan.

- Advertisement -

Berita Populer