Lombok Timur (Inside Lombok) – Satuan Tugas (Satgas) Elpiji menemukan lebih dari 13 ribu tabung gas subsidi ukuran 3 kilogram digunakan di sekitar 200 kandang ayam di Lombok Timur (Lotim). Penggunaan tersebut diduga menjadi salah satu penyebab terbatasnya pasokan elpiji di tengah masyarakat, sehingga pemerintah daerah segera mengambil langkah penanganan.
Bupati Lotim menyatakan akan memanggil para pemilik kandang ayam untuk membahas persoalan tersebut. “Pada hari Jumat nanti, para pemilik kandang ayam akan kami kumpulkan, karena ditemukan sekitar 13 ribu tabung elpiji subsidi dimanfaatkan untuk penghangat kandang,” ujarnya, Kamis (16/4).
Ia menjelaskan, langkah tersebut diambil setelah pemerintah daerah menerima banyak keluhan masyarakat terkait kelangkaan elpiji. Pemerintah juga telah berkoordinasi dengan Pertamina untuk mencari solusi, termasuk penanganan penggunaan gas subsidi di sektor peternakan.
“Setelah menerima aspirasi masyarakat, kami langsung berkoordinasi dengan Pertamina untuk mencari jalan keluar, termasuk terkait penggunaan elpiji di kandang ayam,” jelasnya.
Meski sempat terjadi kelangkaan, kondisi distribusi elpiji di Lotim disebut mulai membaik setelah pelaksanaan operasi pasar. Penyaluran ke pangkalan kini kembali berjalan sesuai jadwal. “Sekarang jadwal distribusi sudah tercatat dengan baik, tidak seperti sebelumnya, sehingga penyaluran mulai berjalan normal dan lebih tertata,” katanya.
Selain inspeksi ke kandang ayam, Satgas Elpiji juga memperketat pengawasan di Pelabuhan Kayangan untuk mengantisipasi dugaan pengiriman ilegal ke luar daerah. Hingga saat ini, belum ditemukan indikasi adanya praktik tersebut. Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat mampu agar beralih ke elpiji non-subsidi agar distribusi tepat sasaran.
“Kami berharap masyarakat yang secara ekonomi mampu dapat menggunakan elpiji non subsidi agar pasokan subsidi tetap tersedia bagi yang berhak,” tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Lotim, M Juaini Taofik, menyatakan pemerintah akan memfasilitasi penukaran tabung gas bagi pelaku usaha peternakan dari ukuran 3 kilogram ke 12 kilogram melalui kerja sama dengan Pertamina.
“Pemerintah daerah akan memfasilitasi penukaran tabung gas ke ukuran non subsidi melalui kerja sama dengan Pertamina, sehingga usaha ternak tetap berjalan sesuai aturan,” ujarnya.
Ia menambahkan, hasil inspeksi menunjukkan tingginya konsumsi elpiji di sektor peternakan, yang bisa mencapai 40 hingga 60 tabung dalam waktu 10 hari untuk satu kandang. Pemerintah bersama Satgas juga melakukan penjagaan di Pelabuhan Kayangan dengan memeriksa kendaraan, khususnya truk besar, guna mencegah distribusi keluar daerah dan menjaga ketersediaan elpiji di Lotim.

