Alunan Budaya Desa Pringgasela Hadirkan Fashion Show Kain Tenun

Selong (Inside Lombok) – Kegiatan Alunan Budaya Desa ke IV di Kecamatan Pringgasela telah dibuka pada Senin (29/10/2018). Kegiatan ini bertujuan untuk mempromosikan potensi kain tenun Pringgasela yang kualitasnya sangat baik.

Pemerintah Kabupaten Lombok Timur berjanji akan membuat showroom sebagai tempat pemasaran produk tenun di kecamatan ini. Pemkab akan memberikan anggaran Rp2 miliar untuk pembangunan dan persiapannya.

Bupati Lombok Timur H. Sukiman Azmy saat membuka Alunan Budaya Desa ke IV Kecamatan Pringgasela.

Bupati Lombok Timur H. Sukiman Azmy pada pembukaan Alunan Budaya ke IV Pringgasela berjanji untuk memberikan alokasi anggaran untuk memajukan salah satu kerajinan daerah ini. Kebijakan Bupati Lotim sebagai langkah nyata untuk mendukung keberlangsungan usaha tenun Pringgasela.

“Saya selalu mempromosikan kain tenun tradisional Pringgasela seperti baju yang saya pakai ini,” kata Sukiman sembari menunjukkan baju tenun yang dikenakannya.

Wisatawan yang datang dapat melihat langsung proses pembuatan tenun. Kemudian mengunjungi showroom untuk membeli kerajinan tenun warga Kecamatan Pringgasela ini.

“Ini akan menarik minat wisatawan, dengan mengetahui prosesnya wisatawan juga dapat lebih menghargai nilai dari hasil tenun,” ujarnya.

Fashion show kain tenun.

Alunan Budaya Desa ini digelar pemuda-pemuda Pringgasela dengan harapan kain tenun ini tetap lestari di tengah perkembangan zaman. Bupati cukup mengapresiasi langkah positif yang dilakukan para pemuda di desa ini.

“Yang lainnya muncul tidak dengan konsep pariwisata, misalnya Sembalun muncul dengan tanaman bawang putihnya tetapi kemudian terkenal setelah adanya pengembangan geopark Rinjani,” ujarnya.

Sementara itu ketua panitia Alunan Budaya Desa ke 4, Azizan Zuhri menyampaikan tujuan acara alunan budaya desa ini untuk meningkatkan perekonomian masyarakat pringgasela dengan mengenalkan kerajinan masyarakat berupa tenun. Dalam event ini diadakan fhasion show dengan menggunakan pakaian kerajinan yang ada di pringgasela dan alhamdulillah sudah terjual sarung tenun sekitar seratus lebih, ungkapnya.

Ketua panitia Alunan Budaya Desa ke IV.

Kedepan berharap kegiatan ini dapat berlangsung lebih baik lagi. Kegiatan dimeriahkan dengan peragaan proses pembuatan kain tenun dan fashion show yang diperagakan oleh terune dedare Lombok Timur 2018.

Rngkaian kegiatan Alunan Budaya Desa IV Pringgasela antara lain pementasan wayang, zumba party, jalan sehat, pentas seni, pementasan gendang belek, fashion show tenun Pringgasela kategori umum, SMA sederajat dan anak-anak, yang Kegiatannya sampai tanggal 3 November 2018.

Acara ini diharapkan menjadi calender event yang dimasukkan oleh OPD terkait sebagai salah satu atraksi budaya di Lombok Timur. Sebab kegiatan ini tidak saja menarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara tapi juga penting sebagai upaya melestarikan budaya kita sendiri.

Diketahui bahwa pembuatan kain tenun ini menggunakan alat tradisional (Gedogan), dapat terdengar suaranya apabila pars pengerajin tenun ini sedang menenun di teras rumah.

Kain tenun pringgasela juga sempat ditampilkan di beberapa acara fashion show di luar negeri. Bahkan belum lam ini ada peneliti dari Jepang datang khusus ke desa ini untuk belajar membuat kain tenun.

Peralatan untuk membuat kain tenun ini sangat sederhana, bahan baku utama adalah kayu. Alat untuk menenun namanya Gedogan, untuk membuat motif namanya Prane. Untuk pewarnaan digunakan bahan alam, warna coklat menggunakan kulit kayu, sedangkan warna hujau dan kuning menggunakan daun.

Pengerajin tenun mengajarkan Dedare Lombok Timur cara membuat kain tenun.

Beberapa motif tenun yang asli dari pringgasela yaitu, Belak Topat, Sakak, Ragi Bayan, Pucuk Rebong, Sari Menanti dan lain-lain. Lama pembuatan untuk menenun satu kain memakan waktu selama 1 bulan. Konon pada zaman dahulu, jika seorang gadis tidak bisa menenun selembar kain, tidak akan diperbolehkan untuk menikah. Oleh sebab itu, keberadaan kain tenun ini bukan hanya sebagai identitas daerah, namun juga sebagai bukti bahwa Pulau Lombok memiliki sejarah yang panjang tentang keberadaan kain tenun yang masih ada hingga saat ini. (IL1)