Dispar Dorong Semangat dan Eksistensi Desa Wisata Meski Pandemi

Mataram (Inside Lombok) –  Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB HL Moh Faozal menyebut, dalam mempersiapkan Destinasi Super Prioritas (DSP) Mandalika, masih banyak PR yang perlu diselesaikan pemerintah. Termasuk banyaknya desa wisata yang dekat sangat dengan Mandalika, tetapi justru ada yang mati suri dan masih perlu pembenahan lagi.

Salah satu yang turut menjadi sorotan dalam hal ini adalah desa Penujak, yang mana dulunya desa wisata yang terkenal dengan handy craft atau kerajinan gerabahnya kini justru mati suri. Padahal sebelumnya, handy craft yang mereka produksi, kata Faozal dapat di ekspor hingga ke Selandia Baru, Argentina dan negara lainnya.

“Tapi tragisnya, hari ini dari 26 art shop yang dulu beroperasi dan ramai sekali, sekarang yang ada tinggal satu” ungkapnya, Kamis (19/11/2020).

Bahkan satu art shop yang masih beroperasi itu pun, disebutnya tidak memiliki semangat bisnis saat ini. Hal tersebut lantaran munculnya berbagai kesulitan yang menerpa, sehingga motivasi bisnis para pelaku usaha tersebut tidak bisa tumbuh.

“Itu terjadi karena memang dia ragu terhadap pasar” sebutnya.

Sehingga hal tersebut juga membutuhkan validasi data, ketika art shop yang masih beroperasi tersebut dapat memproduksi berapa persen kerajinan gerabah. Maka Pemerintah dapat membantu mengarahkan target pasar untuk promosi mereka.

“Atau mungkin kita bisa intervensi dengan desainnya, kebutuhan pasar itu apa sih sekarang ini?” Imbuhnya.

Pemda tengah berupaya untuk terus membantu para pelaku usaha handy craft di Penujak tersebut untuk bisa kembali tumbuh. Sehingga pertumbuhannya bisa bersesuaian dengan kebutuhan untuk mendukung berbagai event besar yang akan dilaksanakan di NTB terutama Mandalika.

“Lokasinya dekat banget dengan Mandalika, tapi ndak ada semangat bisnis” tukasnya.

Selain itu, desa wisata Sukarara di Kecamatan Jonggat, ini juga turut menjadi atensi. Lantaran sekarang dinilai tidak hanya fokus untuk memamerkan kain hasil tenun asli warga Sukarara itu sendiri. Tapi justru menampung hasil produksi dari luar. Sehingga ini dinilai dapat berpengaruh dalam pengenalan identitas desa wisata itu sendiri. Di mana desa Sukarara ini sendiri dikembangkan untuk dapat menjadi sentra kerajinan tenun yang tentu harus menonjolkan ciri khas yang mereka punya.

“Dari sekian art shop yang ada di Sukarara hampir tiga ribu lebih pengrajin kita di situ, berapa yang masih berproduksi?” Tanya Faozal.

Karena banyak outlet yang ada di sana, lanjutnya, akan tetapi kain tenun yang ditampilkan di sana justru bukan hasil produksi dari Sukarara itu sendiri.

“Sedih gak dengan hal itu? Sedih sedih banget” ungkapnya.

Masih banyaknya PR tersebut juga menjadi dampak dari pandemi yang saat ini masih terjadi. Namun, jika sesuai dengan target yang telah direncanakan, di mana pada 2021 mendatang pariwisata sudah mulai menggeliat kembali. Pembenahan kembali persoalan semacam itu harus segera dilakukan. Terlebih Indonesia saat ini tengah menyiapkan event akbar yang akan berlangsung di Mandalika.

“Saya kira ini PR-PR besar kita untuk DSP Mandalika masih banyak banget, sehingga ketika kita serius untuk Lombok Tengah, mari kita selamatkan ini” tandasnya.

Padahal saat ini, tutur Faozal, trend aktivitas tourism di Lombok kini lebih condong ke 99 desa wisata. Hal tersebut menjadi pilihan yang banyak diminati wisatawan di masa pandemi ini.

“Yang menarik hari ini adalah 99 desa wisata, karena memang trend aktivitas tourism kita itu menuju ke sini dan itu kemungkinan pilihan yang lebih diminati di saat pandemi” ungkapnya.

Sehingga ia meminta keseriusan berbagai pihak yang terkait dengan hal ini, untuk sama-sama serius membenahi. Demi dapat menyelamatkan keberlangsungan desa wisata yang sudah ada.