26.5 C
Mataram
Minggu, 14 April 2024
BerandaPendidikanKrisis Eksistensi Jadi Faktor Penyebab Anak Lakukan Perundungan

Krisis Eksistensi Jadi Faktor Penyebab Anak Lakukan Perundungan

Mataram (Inside Lombok) – Kasus bullying atau perundungan di lingkungan sekolah masih sering terjadi. Bahkan baru-baru ini seorang santri di salah satu pondok pesantren di Kediri meninggal dunia karena menjadi korban perundungan. Salah satu penyebab anak melakukan perundungan adalah adanya krisis eksistensi, di mana anak ingin mendapat pengakuan dari teman-temannya di sekolah maupun lingkungan sekitar.

Koordinator Bidang Hukum dan Advokasi Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB, Joko Jumadi mengakui kasus-kasus perundungan masih cukup banyak terjadi di lingkungan sekolah di NTB. Satunya karena tingkat kepercayaan diri anak rendah.

Karena itu, penanganan untuk kasus perundungan harus komprehensif, dengan melibatkan orangtua dan pihak sekolah. Mengingat penanganannya selama ini hanya diselesaikan di lingkungan sekolah saja. Padahal, kondisi tersebut meninggalkan trauma bagi korban.

“Saat ini sudah mulai dibuat tim pencegahan dan penanganan kekerasan di tingkat sekolah sebagai mandat dari permendikbud (Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) No 46 Tahun 2023, yang salah satunya untuk penanganan bekerjasama dengan lembaga layanan lain,” ujar Joko saat dihubungi, Rabu (28/2).

- Advertisement -

Saat ini beberapa sekolah sudah bekerjasama dengan LPA dalam menangani kasus, termasuk kasus perundungan. Adanya tim penanganan kekerasan di tingkat belum ada kelihatan ditemukannya kasus perundungan, terutama di NTB. “Masih belum kelihatan karena baru mulai,” ucapnya.

Joko menilai pengawasan dari orangtua juga harus dilakukan, agar anaknya tidak menjadi korban maupun pelaku dari kasus perundungan. Pasalnya kasus perundungan memberikan dampak cukup besar, terutama bagi korbannya. Dimana meninggalkan rasa trauma bagi korbannya.

“Meningkatkan kepercayaan diri anak, anak yang menjadi korban perundungan sebagian besar adalah anak yang kepercayaan dirinya rendah. Hal ini salah satunya disebabkan oleh pengasuhan dan lingkungan yang tidak kondusif,” terangnya.

Kemudian, anak yang bisa menjadi pelaku perundungan ada juga pengaruh dari lingkungan sekitar mereka. Untuk itu, perlunya ada pengawasan bagaimana lingkungan sekitar anak- anak bergaul ataupun bermain. “Anak yang melakukan perundungan adalah anak yang biasanya ingin diakui oleh lingkungannya,” katanya.

Bahkan beberapa kasus yang menjadi pelaku ini adalah anak yang menjadi korban perundungan di lingkungannya atau merasa tidak diperhatikan di lingkungan. Sehingga ingin menunjukan eksistensinya di tempat lain dengan melakukan perundungan. “Yang harus dilakukan adalah memperbaiki pola pengasuhan baik di rumah maupun di sekolah,” demikian. (dpi)

- Advertisement -

Berita Populer