Pengikut Setia – Cerpen Tara Febriani Khaerunnisa

149
Ilustrasi oleh Nuraisah Maulida Adnani

Di dunia ini, ketenaran dan pengakuan orang-orang lebih penting dari kekayaan material. Orang-orang yang terkenal dan memiliki banyak pengikut sudah pasti kaya raya, namun orang-orang yang memiliki kekayaan material belum tentu terkenal dan memiliki banyak pengikut. Golongan masyarakat hanya ada dua, yang diikuti dan yang mengikuti. Tidak ada di antara itu.

Pagelaran promosi salah satu jenis pasir bangunan terbaik sedang diselenggarakan di Gedung XY. Promosi ini dikepalai oleh seorang wanita dengan pengikut terbanyak, yaitu Nona A. Nona A, menurut standar dunia ini, sangatlah cantik. Rambutnya ikal dan tebal, kelopak matanya tidak memiliki lipatan, hidungnya lebih lebar dari wanita kebanyakan, giginya berjarak dan bibirnya selalu berwarna semerah darah. Nona A tidak tinggi, tidak juga pendek, ukuran pinggangnya sekitar satu pelukan pria dewasa. Suara Nona A seperti tikus yang mencoba melepaskan diri dari perangkap dan ia menjelaskan kelebihan pasir bangunan yang sedang dipromosikannya dengan baik, sangat komunikatif dan menarik banyak orang di gedung itu.

Salah satu pengikut setianya, Nona D, selalu hadir di setiap acara Nona A; seperti promosi alat laser jerawat, bandana rambut, hingga karet sol sepatu selalu ia datangi. Nona D merupakan satu dari sekian banyak pengikut setia Nona A yang berharap bisa bertegur sapa dan mengobrol dengan Nona A, mungkin juga makan bersamanya. Di dunia ini, terdapat tiga tanda pengakuan yang akan membuat dirimu naik kelas dari pengikut menjadi teman seseorang yang kau ikuti. Tanda itu sudah cukup untuk membuat siapa pun berkesempatan memiliki pengikut juga. Tiga tanda itu ialah bertegur sapa, mengobrol, dan makan bersama. Tapi sangatlah susah mendapat kesempatan untuk mencapai tiga tanda tadi, dan butuh usaha lebih dari sekadar yang dilakukan seorang pengikut biasa.

Nona D mendapat keberuntungan sekali dalam seluruh pengulangan hidupnya pada hari yang mendung di siang itu. Gedung XY merupakan milik ayahnya.Gedung paling besar di pusat kota. Warna metalik bercampur aduk menghiasi seluruh gedung, bahkan di sela ubinnya juga diberi warna metalik. Nona D buru-buru pergi ke belakang panggung, siap untuk bersua dengan orang yang selama ini rutin ia ikuti segala aktivitas kehidupannya. Saat bertemu tepat di bawah tangga, Nona A kaget melihat Nona D yang ternyata bukan staf yang bertanggung jawab atas kegiatannya.

“Aku pengikut setiamu,” sapa Nona D bersemangat.

Nona A melihat rambut Nona D yang panjang lurus dengan warna coklat gula, juga wajahnya yang mungil dengan mata besar dan hidung mancung. Giginya rata dengan bibir tipis serta warna yang senada dengan pipi merah mudanya. Nona A hanya melihatnya sebentar dan berjalan pergi. Dia tidak memiliki urusan dengan gadis mungil itu.

“Penampilan yang luar biasa. Kau membuat gedung ayahku penuh sesak oleh orang-orang yang ingin menemuimu,” ucap Nona D masih bersemangat.

Nona A berhenti berjalan, berbalik, menuju Nona D dan memeluknya.

“Pengikutku yang setia. Biar kuhadiahkan kau pelukan terbaikku hari ini.”

Nona D menangis karena bahagia. Setelah Nona A berhenti memeluknya, Nona D menyerahkan hadiahnya.

“Apa ini, wahai pengikut setiaku ?” Nona A menyambar tas yang diberikan oleh Nona D lebih cepat dari kemampuan biasa tangannya menggapai sesuatu.

“Hanya beberapa helai gaun baru dari butik ibuku, bunga mawar hitam kesukaanmu dan perhiasan perak.”

“Oh pengikutku, kau tahu aku hanya memakai pakaian dari Butik P yang terkenal. Lihat, hari ini aku mengenakan gaun dengan tema kastanyet yang lucu.”

“Aku jelas tahu, ibuku pemilik Butik P, itulah mengapa aku memberikanmu pakaian terbaru musim ini. Aku harap kau menyukainya.”

Nona A tersenyum, kembali memeluk Nona D dan mengucapkan betapa beruntungnya Nona D dapat menemuinya hari ini. Nona D seharusnya bahagia karena hadiah darinya diterima oleh Nona A. Nona A menggandeng tangan Nona D dan membawanya ke ruangan khusus di belakang panggung, menyuruh Nona D menunggu sebentar dan menyodorkan amplop kuning cerah dengan pita merah di setiap sudutnya. Nona D membuka amplop itu dan terkejut.

“Apakah ini seperti yang kubayangkan ?” ucapnya dengan mulut menganga dan tangan bergetar

“Betul. Kau pasti benar-benar pengikut setiaku sehingga tahu acara se-eksklusif ini. Ini adalah undangan pertunjukanku yang tidak ada di jadwal untuk umum.”

“Aku pasti datang. Aku pasti akan datang,” kata Nona D berulang. Nona A pergi meninggalkan Nona D yang masih terkejut dan setengah tidak percaya atas apa yang baru saja didapatkannya.

Nona D, sejak hari itu, terus menceritakan pertemuannya dengan Nona A. Namun, tetap merahasiakan pertunjukan yang akan dihadirinya. Nona D menyiapkan segalanya untuk hari pertunjukan Nona A. Dia memesan gaun terbaik yang bisa ibunya buat agar tampak tidak memalukan saat hari besar nanti.

Pada hari pertunjukan, Nona D datang tepat waktu. Pertunjukan itu berlangsung di pojok ruangan di dalam gedung, jauh dari standar tempat yang biasa digunakan Nona A saat pertunjukannya. Ruangan itu hanya bisa menampung lima puluh orang, tujuh puluh jika ingin berdesakan dan sebagian harus berdiri. Nona D datang dengan gaun berwarna coklat muda. Rambutnya disanggul tinggi. Dia hanya membawa tas kecil berwarna putih. Nona D masuk dan melihat-lihat apakah ada orang yang dikenalnya. Nihil, dia merasa sendirian. Di ujung ruangan, terdapat pintu kecil menuju ruang lain. Dia hendak menuju ke sana namun seseorang tiba-tiba menyentuh pundaknya.

“Kau sudah datang rupanya.”

“Oh, hai Nona A. Aku terkejut, ternyata sangat sedikit sekali orang.”

“Sudah kubilang ini pertunjukan eksklusif, hanya untuk pengikut-pengikut setiaku. Aku akan pergi menyiapkan pertunjukan. Duduklah.”

Nona D masih tampak keheranan dan tidak terbiasa dengan suasana di ruangan itu. Nona D memerhatikan Nona A yang terlihat sedikit berbeda. Pakaiannya dibuat lebih terbuka, dia bisa melihat punggung Nona A dan kaki gempalnya. Gaun hijau yang dikenakan Nona A seperti salah satu gaun hadiah yang diberikannya waktu mereka bertemu di Gedung XY. Namun bentuknya diubah dan diwarnai kembali.

Satu persatu tamu Nona A datang dengan gaya rambut dan pakaian hampir mirip gaya Nona A. Setelah menunggu sekitar tiga puluh menit, ruangan itu terisi penuh. Persis sebanyak kursi yang ada. Nona D duduk di barisan terdepan dan tidak bisa mengenali siapapun di sekitarnya .Ia merasa berbeda. Nona D terlalu canggung dan memutuskan untuk diam saja dan menunggu hingga pertunjukan dimulai.

Tiga puluh menit setelah ruangan terisi, pertunjukan Nona A dimulai. Kali ini ia bersama temannya yang juga memiliki pengikut sangat banyak, Nona G. Nona A dan Nona G bersenang-senang di atas panggung. Bernyanyi lagu-lagu yang belum pernah didengar Nona D, bercerita tentang kawan lainnya yang tidak ada di sana, dan pengalaman liburan selama tiga bulan. Pertunjukan diakhiri setelah Nona A dan Nona G makan sereal warna-warni dengan susu coklat almond dan banyak manisan lainnya.

Nona D sangat menikmati pertunjukan yang baru saja disaksikannya. Dia terus bertepuk tangan ketika Nona A dan Nona G mengganti kegiatannya di atas panggung. Dia sangat terhibur dan tidak bisa memalingkan pandangannya dari Nona A dan Nona G Saat pertunjukan selesai, Nona D berdiri dan bertepuk tangan paling meriah. Nona D juga meneriakkan nama Nona A berkali-kali dan mengatakan dia sangat mencintainya. Nona A melompat dari atas panggung, membawa buket bunga dan berjalan ke arah Nona D. Nona A memberikan pelukan untuk Nona D dan menyerahkan buket bunga yang dibawanya. Nona D sangat bahagia.

Nona D cukup lama melihat bunga lili oranye yang diberikan Nona A, lalu berjalan menghampiri Nona A yang sedang bersiap masuk ke pintu kecil di ujung ruangan yang sedari awal menarik perhatian Nona D. Di sana sudah ramai pengikut setia Nona A yang sedang berdesakan masuk namun terhalang penjaga. Saat Nona A berjalan ke pintu kecil, seluruh pengikut setia termasuk penjaga tadi menyingkir dan memberi jalan untuk nona A. Nona D buru-buru mengikuti Nona A, namun kerumunan yang menghalang pintu masuk kembali terbentuk setelah Nona A melewati mereka. Tidak semua diizinkan masuk, lebih banyak yang pergi dengan raut wajah sedih. Nona D merasa bahagia melihat pengikut setia yang pergi dan berpikir wajar saja mereka tidak diterima masuk karena mereka tidak spesial seperti dirinya. Pengikut setia yang berada di depan pintu kecil lambat laun mulai sedikit. Pengikut setia yang berada di depan pintu kecil sekarang tersisa hanya Nona D. Ia berjalan dengan penuh rasa percaya diri. Penjaga memberhentikan langkahnya.

“Undangan ?” cegah penjaga dengan nada bicara yang sangat dingin.

Nona D menyerahkan amplop kuning dengan pita merah di setiap ujungnya dari tas putih kecilnya.

“Bukan, bodoh. Undangan untuk orang terdekat. Nona A hanya makan dengan orang-orang terdekatnya.”

Nona D berdiri dan mematung. Nona D tidak percaya bahwa ternyata dirinya tidak sedekat itu dengan Nona A. Ia mulai menangis. Nona D berpikir dirinya dan Nona A sudah sangat dekat karena diundang pada pertunjukan hari ini dan bunga yang diberikannya tadi. Sekarang Nona D menyadari bahwa dirinya dan Nona A tidak sedekat dan memang tidak akan pernah sedekat itu.

IMG 20220320 WA0007Tara Febriani Khaerunnisa, Mahasiswa bidang Hubungan Internasional di Universitas Mataram. Saat ini menjadi peserta Akarpohon Offschool untuk penulisan fiksi.