Sesatkah Aku, Tuhan – Puisi Teguh Tri Fauzi

126
Ilustrasi oleh Nuraisah Maulida Adnani

Wahana Peziarah II
: kepada Lapakpustaka

Tuhan,
Jika ada lisan
mengapa tulisan mengerikan?

Pertemuan jingga, langit dan pohon
membawa tarian sepasang kembang
datanglah para malaikat
dengan sayap-sayap yang patah

Malam di perjalanan pengantin
seorang wanita pemalu
dan seorang lelaki seniman
melagukan tembang kesunyian
menyatukan lorong hatinya
dalam layar terkembang
dan membelenggu jalan kehidupan

O, inikah bumi manusia?
Yang menyusuri jejak langkah alam semesta?
Ya. Apakah ia sang penakluk azab dan sengsara?

Tuhan,
Jika ini adalah peralihan
alihkan lagi ke masa silam
Biarkan lisan bahagia dalam ucapan
dan biarkan tulisan beristirahat di masa datang.

Bogor, 2019

Sesatkah Aku, Tuhan

Sesatkah aku, Tuhan
Merangkul kembali kerinduanku
terhadap keindahan Nenek moyang
Keberanian memuliakan keadaan
membawaku kepada kejadian yang melemahkan perjalanan

Mengapa selalu terjadi
yang tertulis selalu luput dari kesabaran
Aku menyusuri jalan setapak
menyendiri karena telah menjadi kesendirian
Dijauhi perkembangan
Didekati kesunyian dan gelapnya perasaan

Sejak malam meramaikan catatan harian
Datanglah setetes api bersama kunang-kunang
Aku melihatnya di balik jendela dunia.
Itu artinya aku bertanya; mengapa api tak ada tempat di bumi?

Sesatkah aku, Tuhan
Aku tersesat dalam kehati-hatian kehidupan.

Bogor, 2019

Mengapa Aku Menulis

Dalam tubuh bumi
Angin adalah saksi
Gelap dan terang
alam bawahsadar nurani

Aku menulis
Mengapa aku menulis?

Kejadiannya bersama ruang dan waktu
Aku merasakannya selalu
Tuhan tersenyum padaku
Ketika diketuknya pintu
Dibukanya rahasia keindahan takdirku.

Bogor, 2019

IMG 20220417 WA0002Teguh Tri Fauzi, pria kelahiran Bogor, 20 Oktober 1998. Menyenangi dunia pertanaman, pembacaan, serta penulisan