Ada 505 UKM Tak Sehat di Kota Mataram

Mataram (Inside Lombok) – Dinas Koperasi, Perindustrian dan UKM (Usaha Kecil Menengah) Kota Mataram mencatat saat ini setidaknya ada 604 koperasi yang telah terdaftar. Dari jumlah itu ternyata hanya 54 saja yang dinyatakan sebagai koperasi sehat. Sementara sisanya dianggap tidak sehat karena tidak jelas aktivitasnya.

“Setelah kita sisir (periksa, red), ternyata hanya plangnya saja yang ada. Kegiatannya tidak ada. Karena ada juga koperasi yang didirikan hanya untuk mendapatkan bantuan hibah,“ kata Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan UKM Kota Mataram H. Yance Hendra Dirra.
Ia mengatakan bahwa tahun lalu juga pihaknya telah mengajukan pembubaran kepada 50 koperasi di Kota Mataram. Namun yang disetujui untuk dibubarkan sebanyak 48 saja. Tahun ini pihaknya juga mengajukan sebanyak 50 koperasi lagi untuk dibubarkan.

“Data utuh yang kita punya saat ini ada 604 koperasi, sedangkan yang aktif sebanyak 396. Dari jumlah itu, sebanyak 125 saja yang laksanakan RAT. Dari 125 itu yang sehat dan jelas aktivitasnya hanya 54 saja,” terangnya.

Ia melihat sebagian koperasi itu kalah bersaing dengan industri yang berkembang saat ini. Sementara beberapa koperasi juga didirikan untuk tujuan tertentu, salah satunya untuk mendapatkan bantuan dana hibah. Sehingga, selama 1,5 tahun kepemimpinannya, ia berkomitmen untuk menghapus koperasi-koperasi yang peruntukannya tidak tepat alias tidak sehat.

“Selama saya di Diskoperin, hanya tiga koperasi saja yang kita rekomendasikan untuk didirikan dan disahkan oleh BPMP2T. Kita benar-benar selektif, jangan sampai orientasi untuk mendirikan koperasi ini berbeda dari peruntukan yang sebenarnya,” ujarnya.
Beberapa koperasi yang tidak jelas aktivitasnya itu sebagian sudah dibubarkan. Sementara sebagian lagi masih menunggu keputusan. Ia berharap koperasi yang ada di Kota Mataram ini benar-benar dapat meningkatkan perekonomian warga. Sehingga warga tidak perlu lagi berurusan dengan hutang atau rentenir untuk bisa mendapatkan modal usaha.

“Koperasi ini memang kurang diminati oleh masyarakat. Karena kalau bicara kopersi konotasinya kurang positif. Ada yang bilang hanya tempat silaturahmi, ada yang bilang untuk dapat bantuan hibah saja. Padahal bantuan ini kontraproduktif terhadap usaha yang sedang dalam pertumbuhan,” ujarnya. (IL1)
H. Yance Hendra Dirra. (Inside Lombok/IL1)