Lombok Barat (Inside Lombok) – Tingkat hunian hotel di kawasan wisata Senggigi, Lombok Barat, mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir akibat kenaikan harga tiket pesawat domestik. Kondisi ini berdampak pada minat wisatawan domestik yang beralih ke destinasi luar negeri.
General Manager Merumatta Senggigi, Fahrurrazi, menyebutkan bahwa terjadi penurunan pada okupansi hotel. “Terjadi penurunan, saat ini okupansi (tingkat hunian) kisaran 20 sampai 30 persen,” ungkapnya. Ia menambahkan, angka tersebut turun sekitar 20 hingga 30 persen dibandingkan April tahun lalu yang mencapai 50 hingga 60 persen.
Menurutnya, mahalnya harga tiket domestik membuat wisatawan lokal lebih memilih berlibur ke negara lain di kawasan Asia Tenggara. “Harga tiket (domestik) yang makin mahal, dan semakin murahnya wisata ke negara Asean yang lain seperti Malaysia, Vietnam dan Thailand. Jadi wisatan lokal kita lebih banyak ke luar negeri karena lebih murah,” terangnya.
Pihaknya berharap pemerintah pusat dan daerah segera mengambil langkah untuk mengatasi kondisi tersebut, termasuk menurunkan harga tiket dan meninjau kebijakan efisiensi yang berdampak pada berkurangnya kegiatan pemerintahan di hotel. “Kami berharap agar efisiensi dihilangkan, MBG (program makan bergizi gratis) dilakukan hanya di daerah-daerah yang memang gizinya kurang dan tiket pesawat diturunkan,” tegasnya.
Hal serupa disampaikan General Manager Aruna Senggigi, Yeyen Heryawan, yang mencatat penurunan okupansi sekitar 10 persen dibandingkan tahun lalu. “Okupansi kami sejauh ini masih dibawah tahun lalu. Turun sekitar 10 persen dari tahun lalu,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menyebut adanya pergeseran pasar wisatawan mancanegara, termasuk dari Turki, sementara kunjungan dari Belanda mengalami pembatalan. “Turki yang sebelumnya tidak masuk ke sini, sekarang masuk. Kita ada cancel dari tamu dari Belanda, tapi ada market lain yang ke sini. Wisatawan China kita masih stabil di sini,” bebernya.
Ia juga menyampaikan bahwa kegiatan meeting mulai meningkat sejak April, lebih awal dibandingkan tahun sebelumnya. “Ada beberapa even Pemerintahan dan korporasi yang sudah dilaksanakan sejak April ini,” imbuhnya.
Pihak hotel berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap kondisi tersebut guna menjaga stabilitas sektor pariwisata. “Karena domino efeknya sangat-sangat kencang. Karena kita juga kan ada pegawai, ada vendor dan UMKM di bawah kita yang ikut merasakan dampaknya,” tutup Yeyen.

