Mataram (Inside Lombok) – Kinerja penerimaan pajak di Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan tren positif pada awal 2026, dengan realisasi mencapai 14,84 persen dari target Rp3,9 triliun hingga 31 Maret 2026. Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Nusa Tenggara mencatat penerimaan sebesar Rp578,76 miliar atau tumbuh 13,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, didorong peningkatan aktivitas ekonomi, khususnya sektor pariwisata di Lombok.
Kepala Kanwil DJP Nusa Tenggara, Judiana Manihuruk, menyatakan pertumbuhan tersebut dipengaruhi meningkatnya kunjungan wisatawan ke sejumlah destinasi unggulan. “Kalau kita berkunjung ke tempat wisata di Lombok, terasa sekali ada pertumbuhan signifikan. Kami berharap ini terus konsisten menambah penerimaan pajak, baik untuk pusat maupun daerah,” ujarnya.
Secara sektoral, kategori Akomodasi, Makanan, dan Minuman mencatat pertumbuhan tertinggi hingga 77,3 persen. Sementara itu, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) tumbuh 154,5 persen, menegaskan dominasi konsumsi domestik dalam struktur penerimaan pajak di NTB. PPN Dalam Negeri menjadi kontributor terbesar dengan porsi 47,93 persen atau Rp372,31 miliar, diikuti PPh Pasal 21 sebesar 22,83 persen atau Rp177,32 miliar yang tumbuh 30,1 persen.
Selain itu, PPh Final menyumbang Rp84,25 miliar dan PPh Badan sebesar Rp78,02 miliar. Kontribusi PPh Orang Pribadi dan PPh Pasal 22 relatif kecil masing-masing sekitar 2,57 persen dan 1,96 persen. Dari sisi sektor, Administrasi Pemerintahan masih mendominasi dengan kontribusi 44,51 persen atau Rp257,6 miliar, disusul sektor Perdagangan sebesar 18,05 persen atau Rp104,46 miliar.
“Meskipun ada penurunan di sektor jasa keuangan, namun kontribusinya tidak sebesar sektor perdagangan dan administrasi pemerintahan, sehingga secara total kita tetap tumbuh,” jelasnya.
Secara regional, penerimaan pajak wilayah NTB dan NTT mencapai Rp1.060,8 miliar atau 15,19 persen dari target Rp6,18 triliun dengan pertumbuhan 20,3 persen. Meski pertumbuhan NTB berada di angka 13,9 persen dan sedikit di bawah NTT, capaian realisasi dinilai lebih unggul dibandingkan beberapa wilayah lain.
“Kalau dibandingkan dengan Bali yang capaiannya berada di angka 9,5 persen, kita di NTB dengan 14,84 persen masih tergolong lumayan dan menjanjikan,” pungkasnya.

