Mataram (Inside Lombok) – Komisi IV DPRD NTB memantau aktivitas di PT Amman Mineral Internasional (AMMAN). Lewat pemantauan yang dilakukan, Komisi IV DPRD NTB menyayangkan penggunaan smelter yang masih jauh dari kapasitasnya.
Ketua Komisi IV DPRD NTB, Hamdan Kasim usai melakukan kunjungan kerja ke AMMAN di Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat, Senin (14/4) menjelaskan dari kapasitas yang bisa diolah sebanyak 1 juta ton per tahun, saat ini hanya 300 ribu ton. Jumlah ini disebut belum maksimal dari kapasitas yang tersedia.
“Pengolahan hasil tambang yang dimiliki smelter yang baru 300 ribu ton dari kapasitas 1 juta ton dan ini data dari PT Amman Mineral. Mungkin disebabkan oleh keterbatasan energi yang digunakan untuk menggerakkan smelter itu. Ini yang kami dorong agar dapat ditingkatkan sesuai kapasitas yang dimiliki,” katanya.
Dari 1 juta ton itu kandungan emasnya sebanyak 18 ton per tahun. Ditegaskannya, sangat disayangkan jika smelter tidak dimaksimalkan sesuai kapasitas yang dimiliki. Karena hal itu akan berdampak pada pembagian hasil untuk daerah.
Selain peningkatan kapasitas produksi, Hamdan juga menekankan agar pihak perusahaan memperhatikan aspek kesehatan lingkungan di area tambang. Upaya yang bisa dilakukan dengan mereduksi pencemaran udara. “Tentu kami juga mendorong aspek kesehatan lingkungan berupa pencemaran yang dihasilkan smelter itu,” jelasnya.
Untuk mengurangi pencemaran udara, perusahaan bisa memaksimalkan fungsi carbon capture. Karena selain pencemaran udara, Hamdan juga menekankan agar AMMAN memperhatikan limbah cair dari operasi smelter. “Seperti sianida, merkuri dan katalis berbahaya lainnya. Harus dikelola secara baik agar tidak mencemari lingkungan,” pungkasnya.
Selama kunjungan mulai 13-16 April ini, kunjungan kerja tersebut dilakukan bersama Komisi V DPRD NTB. Karena selain meninjau kondisi smelter, komisi V DPRD NTB memantau kondisi tenaga kerja di sana. (azm)

