500 Ekor Sapi Tertahan di Stasiun Karantina

Gubernur NTB, Dr. Zulkieflimansyah, mengadakan pertemuan dengan Pepehani Sumbawa terkait masalah pengiriman sapi (Inside Lombok/Istimewa)

Sumbawa Besar (Inside Lombok) – Sekitar 500 ekor ternak sapi di Stasiun Karantina Pertanian Kelas I, Sumbawa Besar belum dapat dikirim ke luar daerah. Sapi-sapi milik para pengusaha ternak yang tergabung dalam Persatuan Pedagang Hewan Nasional Indonesia (Pepehani) tersebut tersandera (tertahan, red) di sana karena belum mendapat izin pengiriman dari Dinas Peternakan Sumbawa Besar.

Gubernur NTB, Dr. Zulkieflimansyah yang menerima laporan terkait masalah itu membuat pertemuan mendadak antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan perwakilan Pepehani di Ruang VIP Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin, Jumat (15/02/2019).

Gubernur NTB yang didampingi Sekretaris Dinas Peternakan NTB menyampaikan kepada pihak Pepehani bahwa dirinya akan meminta Kadis Peternakan untuk segera menerbitkan izin. Selain itu, Zulkieflimansyah juga meminta agar kuota pengiriman yang sudah ditetapkan harus dihabiskan, sehingga tahun depan tidak ada lagi pengiriman ternak hidup melainkan dalam bentuk daging.

Keputusan tersebut diambil guna mewujudkan target industri di NTB yang berbasis olahan, bukan lagi barang mentah. Kepada pihak Pepehani, Zulkieflimansyah menekankan bahwa para pengusaha yang tergabung dalam Pepehani harus menyiapkan usaha mereka ke arah pengiriman daging.

Bagi pengusaha yang tidak melakukan hal tersebut, Zulkieflimanysah menyebut akan memberikan sanksi dengan mencabut perizinannya. Terakhir, Zulkieflimansyah mensyaratkan agar pada setiap pengiriman disisihkan infaq sebesar 2.5% untuk kepentingan masjid dan pondok pesantren.

Salah satu perwakilan Pepehani yang hadir, Rahmad Aron, menyampaikan bahwa sebenarnya pengusaha ternak memiliki kotribusi yang cukup besar untuk pendapatan daerah. Untuk setiap pengiriman satu ekor sapi dikenakan retribusi sebesar Rp105 ribu. Setiap harinya dapat dikirim rata-rata 75 ekor sapi. Tidam heran jika Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari pengiriman ternak mencapai Rp2 miliar per tahun.

“Kami sepakat dengan semua yang diminta Gubernur,” ujar Aron.

Sekretaris Pepehani Sumbawa, Rusdi Darmawansyah, menyampaikan rasa terimakasihnya atas respon Gubernur NTB yang bersedia menjadwalkan pertemuan tersebut. Menurutnya, pertemuan semacam ini sangat baik untuk dilakukan, terlebih dari segi menyampaikan secara langsung keluhan yang dirasakan olah para anggota Pepehani.

Sebelumnya para pengusaha ternak yang tergabung dalam Pepehani tersebut menyuarakan keluhannya melalui media sosial. Zulkieflimansyah yang mendengar hal tersebut langsung merespon dengan mengundang perwakilan Pepehani untuk datang dalam program Jumpa Bang Zul dan Umi Rohmi yang digagas Pemprov NTB. Namun menurut mereka masalah pengiriman ternak yang terkendala izin tersebut butuh didiskusikan di forum khusus karena bukan merupakan persoalan kecil.

“Mendadak tadi malam Gubernur menghubungi salah satu anggota Pepehani agar dapat menemui kami di Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin,” ujar Rusdi.

Dalam pertemuan tersebut, Zulkieflimansyah menjelaskan perihal konsep industri NTB yang akan lebih mengedepankan industri olahan dan mengurangi pengiriman material mentah. Menurutnya, Ini untuk mendukung perekonomian di NTB dengan manaikkan nilai dari sumber daya yang dimiliki oleh masyarakat NTB.

“Pepehani sangat welcome (mendukung, red) dengan program tersebut yaitu pengiriman daging. Sebab pengiriman ternak dalam bentuk daging ini memang akan membuka lapangan kerja bagi yang lainnya,” pungkas Rusdi.