Disdag: 96 Persen Komunitas Pasar Tradisional Taati Protokol COVID-19

Sekitar 96 persen komunitas di pasar tradisional di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, sudah menerapkan protokol COVID-19. Inside Lombok/ANTARA/Nirkomala

Mataram (Inside Lombok) – Dinas Perdagangan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menyebutkan, sekitar 96 persen komunitas di pasar tradisional baik itu pedagang maupun pembeli sudah mentaati protokol kesehatan COVID-19, salah satunya dengan menggunakan masker dan sisanya 4 persen masih kurang peduli.

“Komunitas pasar yang masih kurang peduli itulah yang kini menjadi tantangan satgas untuk terus mengingatkan agar tidak terjadi penyebaran COVID-19,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram H Amran M Amin di Mataram, Rabu.

Pernyataan itu disampaikan berdasarkan hasil evaluasi penerapan protokol kesehatan COVID-19 pada 19 pasar tradisional, dengan menempatkan Satgas COVID-19 di masing-masing pasar, sejak Senin (13/7-2020).

Menurutnya, dengan penempatan sekitar 150 satgas COVID-19 di pasar tradisional dan ruang publik secara proposional, telah memberikan hasil yang cukup baik dan dapat dikatakan efektif.

Pasalnya, menurut dia, sebelum adanya penempatan satgas di setiap pasar tradisional, tingkat kesadaran komunitas pasar terhadap penerapan protokol COVID-19, relatif masih minim.

“Tapi kini, Alhamdulillah sudah baik dengan tingkat kesadaran mencapai 96 persen,” katanya lagi.

Untuk lebih meningkatkan kesadaran komunitas pasar agar menerapkan protokol COVID-19, selama berada di pasar, pihaknya saat ini juga sedang menyiapkan pembagian masker gratis baik untuk pengelola pasar maupun pedagang.

“Jumlah masker yang kita siapkan sebanyak 4.300. Dimana 300 masker untuk pengelola, dan 4.000 masker untuk pedagang,” katanya.

Selain masker, Amran juga menyampaikan bahwa ketersediaan fasilitas cuci tangan di pasar tradisonal juga berjalan dengan baik. Untuk pengisian air dilakukan oleh pihak Dinas PUPR, Disperkim dan Dinas Pemadam Kebakaran.

“Kami sudah meminta pengelola pasar agar terus berkomunikasi dengan dinas tersebut, sehingga proses pengisian air cuci tangan bisa tetap dilakukan. Tidak ada masalah, yang penting koordinasi,” katanya. (Ant)